Padang | lp2m.or.id –Tahun 2025 menjadi tahun penting bagi LP2M dalam perjalanan mendorong perubahan sosial yang lebih adil dan inklusif. Di tengah berbagai tantangan, mulai dari isu perkawinan anak & usia di bawah 19 tahun, ketimpangan gender, hingga dampak perubahan iklim, LP2M terus bekerja bersama komunitas perempuan akar rumput, perempuan muda, orang dengan disabilitas, pemerintah, akademisi, dan mitra lainnya untuk memastikan tidak ada satu pun yang tertinggal.
Catatan akhir tahun ini disusun sebagai catatan perjalanan: tentang kerja-kerja yang dilakukan, kolaborasi yang dirajut, serta harapan yang tumbuh dari nagari hingga ruang kebijakan.
Tahun 2025 dalam Lanskap Kerja LP2M
Tahun 2025 memperlihatkan bahwa persoalan sosial tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Ketimpangan gender, praktik perkawinan anak & usia di bawah 19 tahun, dan kerentanan ekonomi masyarakat saling terkait dan membutuhkan pendekatan kemitraan. LP2M hadir dengan cara kerja yang sederhana, namun bermakna: Mendengar Suara Komunitas, Memperkuat Posisi & Peran Perempuan Akar Rumput, dan Mempertemukan Multi-Pihak untuk Duduk Bersama Mencari Solusi. Prinsip Inklusi, Kesetaraan & Keadilan Gender, dan Kolaborasi menjadi pegangan utama sepanjang tahun 2025.
Program INKLUSI: Perubahan dari Rumah, Komunitas Perempuan Akar Rumput, hingga Kebijakan
Bagi LP2M, perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Program INKLUSI di 2025 berfokus pada pencegahan perkawinan anak & usia di bawah 19 tahun, penguatan kepemimpinan perempuan & perempuan muda, serta perubahan cara pandang masyarakat terhadap relasi yang setara. Melalui Program INKLUSI, LP2M mendampingi komunitas perempuan akar rumput & perempuan muda dan pemerintah daerah dalam pencegahan perkawinan anak & usia di bawah 19 tahun. Komitmen ini diperkuat dengan telah tersusunnya :
Rencana Aksi Daerah Pencegahan Perkawinan Anak (RAD PPA) Kabupaten Padang Pariaman, sebagai pijakan kebijakan untuk memastikan perlindungan anak dan kesetaraan gender berjalan secara sistematis dan berkelanjutan. Sepanjang tahun, Forum Komunitas Perempuan Akar Rumput (FKPAR) kembali aktif di tujuh kabupaten. Forum ini menjadi ruang belajar bersama, tempat berbagi pengalaman, sekaligus wadah menyuarakan kepentingan perempuan dan anak. Di tingkat ekonomi, sembilan kelompok CU dan koperasi perempuan tumbuh sebagai ruang saling menguatkan. Bagi banyak perempuan, kelompok ini bukan hanya soal usaha, tetapi juga tentang keberanian berbicara dan mengambil peran di komunitas. Perubahan nilai juga diperkuat melalui dialog dengan tokoh adat dan agama. Lima belas tokoh menyampaikan sikap terbuka menolak perkawinan anak dan usia dibawah 19 tahun, sebuah langkah penting di tengah kuatnya norma sosial yang selama ini dianggap wajar. Cerita lain datang dari Keluarga Pembaharu. Sembilan keluarga di tiga kabupaten menunjukkan bahwa pencegahan perkawinan anak bisa dimulai dari rumah, melalui komunikasi, teladan, dan keberanian mengambil sikap.
Kemitraan Multi Pihak: Saat Kolaborasi Menjadi Nyata
Tahun 2025 juga menandai tumbuhnya kolaborasi lintas sektor melalui pendekatan Kemitraan Multi Pihak (MSP). LP2M berperan sebagai penghubung, memastikan setiap pihak, pemerintah, lembaga negara, komunitas, hingga kelompok rentan, memiliki ruang untuk berkontribusi. Di Kabupaten Pesisir Selatan, kolaborasi ini terlihat melalui pengembangan pertanian adaptif. Petani di Nagari Sungai Gayo Lumpo dan Sungai Sariak Lumpo mulai menerapkan metode tanam yang lebih ramah lingkungan dan adaptif terhadap perubahan iklim. Perempuan, petani muda, dan lansia terlibat aktif, membuktikan bahwa pertanian inklusif bukan sekadar wacana. Dukungan dari Bank Indonesia dan multi-pihak lainnya memperkuat upaya ini, mulai dari penyediaan alat pertanian hingga pembangunan rumah kompos. Di saat yang sama, LP2M bersama mitra mendorong penguatan tata kelola melalui Dapur Kolaborasi SDGs dan proses penyusunan RAD SDGs Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten Agam & Provinsi Sumatera Barat.
Belajar dari Lapangan: Tantangan dan Inovasi
Perjalanan 2025 tidak selalu mudah. Norma sosial yang sudah mengakar, keterbatasan data terpilah berdasarkan gender dan ragam status sosial lainnya, dan keberlanjutan komitmen kemitraan menjadi tantangan yang terus dihadapi. Namun, dari tantangan tersebut lahir banyak pembelajaran. LP2M melihat bahwa perubahan paling kuat datang dari kepemimpinan lokal, terutama perempuan yang berani mengambil peran. Pendekatan budaya Minangkabau, dialog yang setara, serta pemanfaatan media digital menjadi bagian dari inovasi yang terus dikembangkan.
Dampak yang Dirasakan Bersama
Dampak kerja LP2M di 2025 tidak hanya terlihat dalam angka, tetapi juga dalam perubahan sikap dan cara pandang. Perempuan semakin percaya diri terlibat dalam pengambilan keputusan, komunitas perempuan akar rumput, perempuan muda dan kelompok rentan lainnya mulai terbuka membicarakan isu sensitif, dan kolaborasi lintas sektor berjalan lebih cair.
Secara umum, kontribusi LP2M dapat dilihat pada tiga poin berikut:
- Forum komunitas aktif, kelompok perempuan akar rumput & perempuan muda tumbuh, dan kemitraan lintas pihak berjalan.
- Meningkatnya partisipasi perempuan dan kelompok rentan dalam ruang publik.
- Pengakuan/Ligitimasi multi-pihak, salah satunya ditandai dengan penghargaan yang diterima LP2M – SDGs Action Awards 2025.
Menyongsong 2026 dengan Harapan
Menutup 2025, LP2M melangkah ke tahun berikutnya dengan keyakinan bahwa perubahan adalah proses yang perlu dirawat bersama. Ke depan, LP2M akan terus memperluas praktik baik, memperkuat advokasi kebijakan, serta memanfaatkan ruang digital untuk berbagi pengetahuan dan advokasi.
“Perubahan tidak selalu lahir dari langkah besar, tetapi dari keberanian untuk terus berjalan bersama.”



