Padang | lp2m.or.id—Di tengah upaya pemulihan pascabencana galodo, penguatan kapasitas masyarakat tidak hanya berfokus pada pemulihan infrastruktur dan produksi pertanian, tetapi juga pada penguatan aspek sosial yang mendukung keberlanjutan pembangunan. Hal ini menjadi salah satu pembelajaran penting dalam pertemuan rutin Sekolah Lapang (SL) Mina Padi, yang kali ini mengangkat tema Kesetaraan Gender, Disabilitas, dan Inklusi Sosial (GEDSI) dalam konteks pemulihan pascabencana dan pengelolaan pertanian berkelanjutan.
Kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama bagi peserta untuk memahami bahwa proses pemulihan dan pembangunan pertanian tidak dapat dipisahkan dari partisipasi seluruh kelompok masyarakat, termasuk perempuan, laki-laki, lansia, orang muda, serta kelompok rentan lainnya. Dengan melibatkan berbagai perspektif, proses pembangunan menjadi lebih adil, inklusif, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara lebih menyeluruh.
Memahami Dampak Pascabencana Melalui Pohon Masalah
Dalam pertemuan ini, peserta menggunakan metode pohon masalah untuk mengidentifikasi berbagai persoalan yang muncul pascabencana galodo. Melalui pendekatan partisipatif tersebut, peserta bersama-sama memetakan akar penyebab, permasalahan utama, serta dampak yang dirasakan oleh masyarakat, khususnya terhadap sektor pertanian dan kehidupan keluarga.
Diskusi tidak hanya berfokus pada kerusakan lahan pertanian atau penurunan hasil produksi, tetapi juga menggali perubahan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Peserta berbagi pengalaman mengenai tantangan yang dihadapi selama proses pemulihan, mulai dari pembagian pekerjaan rumah tangga, pengelolaan usaha tani, hingga keterlibatan anggota keluarga dalam mengambil keputusan.

Melalui proses ini, peserta diajak melihat bahwa dampak bencana sering kali dirasakan secara berbeda oleh setiap kelompok masyarakat. Perempuan, lansia, anak muda, maupun kelompok rentan lainnya memiliki pengalaman dan kebutuhan yang perlu diperhatikan dalam proses pemulihan dan pembangunan.
Mengintegrasikan GEDSI dalam Pertanian Berkelanjutan
Salah satu fokus utama pembelajaran adalah memperkenalkan konsep Kesetaraan Gender, Disabilitas, dan Inklusi Sosial (GEDSI) sebagai bagian penting dari pembangunan pertanian yang berkelanjutan. Peserta mendiskusikan bagaimana pembagian peran dalam keluarga dan usaha pertanian sering kali masih dipengaruhi oleh norma sosial yang membatasi keterlibatan kelompok tertentu. Melalui diskusi tersebut, peserta diajak merefleksikan pentingnya menciptakan kesempatan yang setara bagi seluruh anggota keluarga untuk berpartisipasi dalam kegiatan produktif, pengambilan keputusan, maupun akses terhadap sumber daya dan informasi. Pemahaman mengenai GEDSI menjadi semakin relevan dalam konteks pemulihan pascabencana. Ketika seluruh kelompok masyarakat dilibatkan secara aktif, proses pemulihan dapat berlangsung lebih efektif karena mempertimbangkan kebutuhan dan potensi yang dimiliki oleh setiap individu.
Ruang Aman untuk Belajar dan Berbagi Pengalaman
Pertemuan Sekolah Lapang Mina Padi juga menunjukkan bahwa proses belajar tidak hanya terjadi melalui transfer pengetahuan teknis, tetapi juga melalui dialog dan pertukaran pengalaman antarpeserta. Diskusi yang berlangsung memberikan ruang bagi peserta, khususnya perempuan, untuk menyampaikan pandangan, berbagi pengalaman, serta mengungkapkan berbagai tantangan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Ruang yang aman dan inklusif seperti ini menjadi penting untuk mendorong partisipasi yang lebih aktif dan memastikan setiap suara dapat didengar. Selain memperkuat pemahaman mengenai isu sosial, proses ini juga membantu membangun rasa percaya diri peserta dalam menyampaikan pendapat serta terlibat dalam pengambilan keputusan di tingkat keluarga maupun kelompok.
Mendorong Pemulihan yang Lebih Inklusif dan Berkelanjutan
Pembelajaran dari kegiatan ini menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya berkaitan dengan membangun kembali sarana fisik atau meningkatkan produksi pertanian. Pemulihan yang berkelanjutan juga memerlukan penguatan kapasitas sosial masyarakat, termasuk peningkatan kesadaran mengenai kesetaraan, inklusi, dan partisipasi.
Melalui kemitraan multipihak yang mendukung pelaksanaan Sekolah Lapang Mina Padi, masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang praktik pertanian berkelanjutan, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk membangun cara pandang yang lebih inklusif dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan.
Dengan semakin terbukanya ruang-ruang pembelajaran partisipatif, diharapkan masyarakat dapat menjadi lebih tangguh dalam menghadapi risiko bencana, sekaligus mampu mengembangkan sistem pertanian yang produktif, adil, dan berkelanjutan bagi seluruh anggota komunitas.
Kab. Agam , Sumatera Barat, 19 Juni 2026
Dokumentasi dan data lapangan dihimpun oleh Nurul Ulya .





