Padang | lp2m.or.id— Di tengah meningkatnya tantangan perubahan iklim dan kebutuhan akan sistem pangan yang lebih berkelanjutan, pemanfaatan sumber daya lokal menjadi salah satu langkah penting untuk memperkuat ketahanan pangan masyarakat. Hal inilah yang dilakukan oleh Kelompok Saina Simalainge di Desa Sioban, Kabupaten Kepulauan Mentawai, melalui kegiatan pembuatan kompos dari sampah organik rumah tangga yang terintegrasi dengan pengelolaan kebun kelompok.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya penguatan usaha-usaha mandiri perempuan (self-employed women), pengembangan pertanian tanaman pangan organik, serta peningkatan kemampuan masyarakat dalam beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim.
Menghidupkan Kembali Praktik yang Ramah Lingkungan
Sebelum kegiatan ini dilaksanakan, anggota kelompok sebenarnya telah memiliki pengalaman dalam membuat pupuk kompos. Namun, seiring berjalannya waktu, praktik tersebut mulai jarang dilakukan. Melalui kegiatan ini, anggota kelompok kembali menghidupkan pengetahuan dan keterampilan yang pernah dimiliki untuk menghasilkan pupuk organik secara mandiri.
Langkah ini menjadi penting karena kebutuhan pupuk sering kali menjadi salah satu tantangan dalam pengelolaan kebun. Dengan memproduksi pupuk sendiri, kelompok tidak hanya dapat mengurangi ketergantungan pada pupuk dari luar, tetapi juga memanfaatkan limbah organik yang selama ini belum dikelola secara optimal.

Bahan yang Tersedia di Sekitar Rumah Memanfaatkan
Salah satu keunggulan pembuatan kompos yang dilakukan kelompok adalah penggunaan bahan-bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Berbagai limbah organik rumah tangga dimanfaatkan sebagai bahan baku, seperti gula merah, kangkung, pepaya yang sudah tidak layak konsumsi, air cucian beras, kulit bawang, serta bonggol pisang.
Bahan-bahan tersebut dicampurkan dan difermentasi selama kurang lebih satu bulan hingga menghasilkan pupuk organik yang siap digunakan untuk mendukung pertumbuhan tanaman di kebun kelompok.
Praktik ini menunjukkan bahwa limbah rumah tangga yang sering dianggap tidak bernilai sebenarnya dapat diolah menjadi sumber nutrisi bagi tanaman. Selain mengurangi jumlah sampah organik, metode ini juga membantu memperbaiki kualitas tanah dan mendukung sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan.
Pertanian Organik sebagai Strategi Adaptasi Perubahan Iklim
Perubahan iklim membawa berbagai tantangan bagi sektor pertanian, mulai dari perubahan pola curah hujan, peningkatan risiko gagal panen, hingga menurunnya kualitas lahan. Dalam situasi tersebut, penerapan praktik pertanian organik menjadi salah satu strategi yang dapat meningkatkan ketahanan sistem produksi pangan.
Penggunaan pupuk organik membantu menjaga kesuburan tanah, meningkatkan kandungan bahan organik, serta memperkuat kemampuan tanah dalam menyimpan air. Kondisi ini penting untuk mendukung pertumbuhan tanaman di tengah perubahan kondisi iklim yang semakin tidak menentu.
Bagi kelompok perempuan di Desa Sioban, pembuatan kompos tidak hanya menjadi kegiatan teknis pertanian, tetapi juga bagian dari upaya membangun kemandirian dalam mengelola sumber daya yang tersedia di lingkungan mereka.
Membangun Ruang Belajar dan Berbagi Pengalaman
Manfaat kegiatan ini tidak hanya terlihat dari hasil kompos yang dihasilkan, tetapi juga dari proses belajar yang terjadi di antara anggota kelompok. Selama kegiatan berlangsung, anggota terlihat semakin aktif berdiskusi, mengajukan pertanyaan, serta berbagi pengalaman terkait praktik pertanian dan pengelolaan kebun.
Interaksi tersebut memperkuat proses pembelajaran bersama dan mendorong tumbuhnya rasa percaya diri anggota dalam menerapkan praktik-praktik pertanian yang lebih berkelanjutan. Pengetahuan yang diperoleh tidak hanya bermanfaat bagi kebun kelompok, tetapi juga dapat diterapkan dalam pengelolaan lahan dan pekarangan di rumah masing-masing.
Dari Sampah Menjadi Sumber Ketahanan Pangan
Pengalaman Kelompok Saina Simalainge menunjukkan bahwa upaya memperkuat ketahanan pangan tidak selalu membutuhkan teknologi yang rumit atau biaya yang besar. Dengan memanfaatkan sumber daya lokal dan pengetahuan yang dimiliki masyarakat, limbah organik rumah tangga dapat diubah menjadi pupuk yang mendukung produksi pangan secara berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, anggota kelompok semakin memahami bahwa menjaga lingkungan, mengurangi sampah, dan meningkatkan produksi pangan dapat dilakukan secara bersamaan. Praktik sederhana seperti pembuatan kompos menjadi contoh nyata bagaimana masyarakat dapat beradaptasi terhadap perubahan iklim sekaligus memperkuat ketahanan pangan keluarga dan komunitas.
Jumat, 19 Juni 2026
Dokumentasi dan data lapangan dihimpun oleh Prauke Mardelina Sageileppak





