lp2m.or.id, Padang–Nagari Aia Tajun menjadi lokasi pelaksanaan pertemuan pertama Sekolah Lapangan (SL) Petani yang difasilitasi dalam rangka mendorong praktik pertanian berkelanjutan. Kegiatan ini mengawali rangkaian pembelajaran lapangan yang berfokus pada peningkatan pemahaman petani terkait dampak perubahan iklim serta pentingnya penerapan teknologi tepat guna dalam mengelola lahan pertanian.
Mengenal Perubahan Iklim dan MTOT
Pertemuan perdana diawali dengan pengenalan mengenai fenomena perubahan iklim yang semakin nyata dirasakan oleh petani, seperti perubahan pola musim tanam, peningkatan serangan hama, dan berkurangnya produktivitas lahan. Untuk merespons tantangan ini, peserta diperkenalkan dengan konsep SPM (Sawah Pokok Murah) atau MTOT (Mulsa Tanpa Olah Tanah) sebagai salah satu solusi adaptif.
Metode MTOT dinilai lebih efisien dan ramah lingkungan karena mampu menjaga kelembaban tanah, mengurangi biaya pengolahan, serta menekan pertumbuhan gulma. Dengan pendekatan ini, petani diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada cara-cara konvensional yang lebih mahal dan berisiko tinggi terhadap kerusakan lahan.
Diskusi Gender dan Sistem Bagi Hasil
Selain aspek teknis, kegiatan SL juga memberikan ruang diskusi kritis mengenai peran gender dalam pengelolaan sawah. Peserta membandingkan keuntungan dan tantangan antara metode SPM dan metode konvensional dari perspektif laki-laki maupun perempuan. Hal ini menjadi penting karena pembagian kerja di sektor pertanian seringkali timpang, sehingga dibutuhkan pemahaman bersama untuk mendorong kesetaraan dan keadilan peran dalam rumah tangga petani.
Dalam sesi berikutnya, peserta bersama-sama menyusun kontrak belajar sebagai bentuk komitmen bersama dalam mengikuti rangkaian kegiatan SL. Kesepakatan ini diharapkan memperkuat rasa tanggung jawab, kedisiplinan, dan solidaritas antar peserta. Selain itu, dibahas pula mengenai sistem bagi hasil antara penggarap dan pemilik lahan, dengan tujuan memberikan pemahaman yang lebih adil dan transparan bagi kedua belah pihak.
Tujuan dan Harapan
Melalui kegiatan Sekolah Lapangan ini, diharapkan petani dapat:
-
Memahami pentingnya adaptasi terhadap perubahan iklim melalui penerapan sistem SPM.
-
Meningkatkan kesadaran tentang kesetaraan peran gender dalam pertanian.
-
Memperkuat komitmen bersama melalui kontrak belajar.
-
Menumbuhkan kesadaran mengenai sistem bagi hasil yang lebih adil.
-
Menghidupkan kembali semangat gotong royong dalam mengelola lahan.
Kegiatan ini menjadi langkah awal menuju pengelolaan pertanian yang lebih berkelanjutan, inklusif, dan adaptif terhadap tantangan iklim. Dengan semangat kolaborasi, Nagari Aia Tajun diharapkan dapat menjadi contoh praktik baik dalam penerapan teknologi pertanian berkelanjutan sekaligus pengarusutamaan gender di sektor pertanian.