lp2m.or.id, Padang–Nagari Aia Tajun kembali menjadi lokasi pembelajaran bersama melalui pertemuan lanjutan Sekolah Lapangan (SL) Petani. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian penguatan kapasitas petani dalam menghadapi tantangan perubahan iklim melalui praktik pertanian ramah lingkungan.
Jika pada pertemuan sebelumnya petani diperkenalkan dengan konsep perubahan iklim dan metode MTOT (Mulsa Tanpa Olah Tanah) atau Sawah Pokok Murah (SPM), maka pada sesi kali ini peserta langsung mempraktikkan teknik dasar berupa pembuatan bedengan dan pemasangan mulsa jerami sebagai langkah penting menuju tahap penanaman.
Tujuan Kegiatan
Pertemuan ini bertujuan untuk membekali petani dengan keterampilan teknis dalam mempersiapkan lahan tanam padi secara efektif dan berkelanjutan. Melalui praktik pembuatan bedengan dan pemasangan mulsa jerami, peserta diharapkan:
-
Menguasai teknik pengelolaan lahan yang hemat biaya dan ramah lingkungan.
-
Memahami manfaat mulsa jerami dalam meningkatkan produktivitas dan kesuburan tanah.
-
Mengembangkan pola pikir adaptif terhadap perubahan iklim dengan cara bertani yang efisien, murah, dan inklusif.
Pembuatan Bedengan
Kegiatan diawali dengan menyiapkan 10 bedengan di lahan percontohan, masing-masing berukuran lebar 1,5 meter. Bedengan ini menjadi lokasi percobaan penerapan metode MTOT. Melalui teknik ini, lahan tidak diolah secara intensif, sehingga dapat menghemat biaya produksi, menjaga struktur tanah, sekaligus lebih adaptif terhadap kondisi iklim yang tidak menentu.
Selain itu, penerapan SPM/MTOT juga memperhatikan aspek inklusivitas, di mana keterlibatan laki-laki dan perempuan dalam proses persiapan lahan diharapkan lebih seimbang. Hal ini penting untuk memastikan bahwa manfaat pertanian berkelanjutan dapat dirasakan oleh seluruh anggota keluarga petani.
Pemasangan Mulsa Jerami
Setelah bedengan selesai dibuat, permukaan lahan ditutup dengan mulsa jerami. Penggunaan jerami sebagai mulsa memiliki berbagai manfaat, antara lain:
-
Menjaga kelembaban tanah sehingga menghemat penggunaan air.
-
Mengurangi pertumbuhan gulma secara alami.
-
Saat terurai, jerami akan menjadi pupuk organik yang meningkatkan kesuburan tanah.
Selain jerami, peserta juga diperkenalkan dengan alternatif bahan organik lain yang dapat digunakan sebagai mulsa, seperti alang-alang, batang jagung, atau rumput di sekitar lahan. Pemanfaatan bahan lokal ini menjadi salah satu bentuk inovasi murah, mudah, dan berkelanjutan yang dapat langsung diterapkan oleh petani.
Harapan Kegiatan
Melalui kegiatan ini, petani di Nagari Aia Tajun diharapkan tidak hanya mampu menguasai keterampilan teknis, tetapi juga membangun kesadaran bahwa pertanian berkelanjutan adalah solusi adaptif terhadap perubahan iklim. Semangat gotong royong yang terbangun selama kegiatan juga memperkuat solidaritas antarpetani dalam menghadapi tantangan bersama.
Lebih jauh, Sekolah Lapangan di Nagari Aia Tajun diharapkan menjadi model pembelajaran kolektif berbasis masyarakat, di mana inovasi sederhana seperti MTOT dengan mulsa jerami dapat memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.