Padang | lp2m.or.id—Upaya mewujudkan pembangunan berkelanjutan membutuhkan kolaborasi yang melibatkan berbagai pihak. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri, melainkan perlu bersinergi dengan organisasi masyarakat sipil, akademisi, dunia usaha, mitra pembangunan, media, dan masyarakat. Semangat inilah yang menjadi dasar implementasi kemitraan multipihak (multi-stakeholder partnership) dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Sekretariat Nasional SDGs Kementerian PPN/Bappenas melakukan audiensi dengan Pemerintah Kabupaten Agam sekaligus mengunjungi pilot project Kemitraan Multipihak di Nagari Paninjauan, Kecamatan Tanjung Raya. Kunjungan ini bertujuan untuk melihat secara langsung praktik baik pembangunan berkelanjutan yang dibangun melalui kolaborasi lintas sektor di tingkat daerah.
Audiensi yang berlangsung di Balairung Rumah Dinas Wakil Bupati Agam dihadiri oleh Kepala Sekretariat Nasional SDGs Kementerian PPN/Bappenas, Pungkas Bajuri Ali, S.TP., M.S., Ph.D., bersama perwakilan Direktorat Pangan dan Pertanian Kementerian PPN/Bappenas, Wakil Bupati Agam, jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), serta berbagai mitra pembangunan yang terlibat dalam implementasi program.
Pertemuan tersebut menjadi ruang dialog untuk membahas perkembangan pelaksanaan SDGs di Kabupaten Agam, termasuk berbagai tantangan, peluang, dan pembelajaran dalam membangun kolaborasi lintas sektor. Pendekatan kemitraan multipihak dinilai menjadi salah satu strategi penting untuk memastikan setiap aktor dapat berkontribusi sesuai dengan kapasitas dan kewenangannya, sehingga pembangunan menjadi lebih efektif, inklusif, dan berkelanjutan.
Minapadi sebagai Contoh Praktik Pembangunan Berkelanjutan
Usai audiensi, rombongan melanjutkan kunjungan lapangan ke demplot Minapadi di Nagari Paninjauan yang menjadi salah satu pilot project Kemitraan Multipihak di Kabupaten Agam.
Minapadi merupakan sistem budidaya yang mengintegrasikan penanaman padi dengan pemeliharaan ikan dalam satu hamparan sawah. Melalui sistem ini, petani tidak hanya memperoleh hasil panen padi, tetapi juga memperoleh tambahan pendapatan dari hasil budidaya ikan. Selain meningkatkan produktivitas lahan, sistem ini mampu mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya, mengurangi ketergantungan terhadap input kimia, serta menjaga keseimbangan ekosistem pertanian.
Pendekatan tersebut menjadi salah satu contoh penerapan pertanian berkelanjutan yang mampu menjawab berbagai tantangan pembangunan, mulai dari ketahanan pangan, peningkatan pendapatan petani, hingga adaptasi terhadap perubahan iklim.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Mendukung SDGs
Keberhasilan pilot project ini tidak terlepas dari kolaborasi berbagai pemangku kepentingan. Program didukung oleh GIZ Indonesia dan difasilitasi oleh LP2M dengan melibatkan Sekretariat SDGs Kabupaten Agam, Pemerintah Nagari Paninjauan, Dinas Pertanian Kabupaten Agam, Dinas Perikanan dan Pangan Kabupaten Agam, Dana Nusantara, WALHI Sumatera Barat, serta kelompok petani sebagai pelaku utama di lapangan.
Melalui kemitraan tersebut, setiap pihak berkontribusi sesuai dengan peran masing-masing, mulai dari penyusunan kebijakan, pendampingan masyarakat, penguatan kapasitas petani, penyediaan dukungan teknis, hingga pengembangan praktik-praktik pertanian yang adaptif terhadap perubahan iklim.
Model kolaborasi seperti ini menunjukkan bahwa pencapaian SDGs memerlukan kete
rlibatan aktif seluruh elemen masyarakat. Kemitraan yang kuat memungkinkan berbagai sumber daya, pengetahuan, dan pengalaman dapat disinergikan untuk menghasilkan dampak pembangunan yang lebih luas dan berkelanjutan.
Mendorong Replikasi Praktik Baik
Kunjungan Sekretariat Nasional SDGs menjadi bentuk apresiasi sekaligus sarana pembelajaran terhadap praktik baik yang telah berkembang di Kabupaten Agam. Pengalaman ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam membangun kemitraan multipihak yang mampu mempercepat pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.
Lebih dari sekadar menghasilkan inovasi di sektor pertanian, pilot project Minapadi menunjukkan bahwa pembangunan berkelanjutan dapat diwujudkan melalui kolaborasi yang setara, partisipatif, dan berbasis kebutuhan masyarakat. Ketika pemerintah, masyarakat sipil, mitra pembangunan, dunia usaha, akademisi, dan komunitas lokal bekerja bersama, berbagai tantangan pembangunan dapat dihadapi secara lebih efektif sekaligus menciptakan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat dan lingkungan.

Selasa, 30 Juni 2026
Dokumentasi dan data lapangan dihimpun oleh Faiz Jiyad Mesandaffa




