Padang | lp2m.or.id – Isu ketangguhan pangan kerap menjadi pembahasan dalam diskusi publik, terutama di tengah tantangan krisis iklim dan tekanan ekonomi rumah tangga. Namun, praktik nyatanya sering kali justru tumbuh dari langkah-langkah sederhana di tingkat keluarga.
Di Nagari Koto Tinggi, Rina Elvia—Perempuan Muda sekaligus Bendahara CU Koper Arum, menunjukkan bagaimana pengelolaan pekarangan rumah dapat menjadi strategi konkret untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga. Berangkat dari partisipasinya dalam pertemuan dan proses pembelajaran mengenai pemanfaatan pekarangan, Rina mulai mempraktikkan pengetahuan tersebut secara langsung.
“Saya mulai semangat berkebun karena sering mengikuti pertemuan dan pembelajaran tentang pemanfaatan pekarangan. Dari situ saya sadar, setidaknya kita bisa mengurangi biaya belanja dapur setiap hari. Sambil menanam, pekarangan juga jadi lebih bersih dan tertata,” ujarnya.
Di belakang rumahnya, Rina menanam cabai merah, cabai rawit, cabai setan, kacang panjang, singkong, kunyit, jahe, dan sereh. Hasilnya mulai dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa kebutuhan dapur, seperti jahe dan sereh, kini tidak lagi dibeli di pasar karena telah tersedia dari kebun sendiri.
Inisiatif ini berkembang melalui dorongan dan proses pembelajaran yang difasilitasi oleh Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Masyarakat (LP2M), yang menekankan bahwa ketangguhan pangan keluarga dapat dimulai dari pemanfaatan pekarangan sebagai aset produktif. Dari ruang-ruang belajar tersebut, Rina tidak hanya memperoleh keterampilan teknis bercocok tanam, tetapi juga pemahaman baru mengenai potensi ekonomi yang dimiliki ruang domestik.
Meskipun belum menghasilkan panen dalam skala komersial, praktik ini telah memberikan dampak nyata: pengeluaran rumah tangga berkurang, akses pangan menjadi lebih terjamin, dan ketergantungan pada pasar menurun. Aktivitas berkebun masih dilakukan di sela waktu luang, namun konsistensi tersebut menjadi fondasi penting bagi ketahanan pangan jangka panjang.
Pengalaman Rina menegaskan bahwa ketangguhan pangan tidak selalu ditentukan oleh skala produksi, melainkan oleh kesadaran, pengetahuan, dan keberlanjutan praktiknya. Ketika pekarangan dikelola dengan komitmen, ia dapat bertransformasi menjadi ruang belajar, ruang produksi, sekaligus ruang pemberdayaan ekonomi keluarga.



