Kefamenanu | lp2m.or.id — Memasuki hari kedua pertukaran pengetahuan lanjutan antara Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Sumatera Barat, dan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, Kamis (24/9), rombongan mengawali kegiatan dengan mengunjungi SMKS Katolik St. Petrus X Insana di Bitauni. Kunjungan menjadi ruang bagi delegasi untuk melihat langsung praktik pembuatan dan pemanfaatan ekoenzim yang dikembangkan di lingkungan sekolah, sekaligus bertukar pengalaman dengan para siswa.

Di hadapan peserta pertukaran pengetahuan, para siswa memperagakan proses pembuatan ekoenzim. Praktik tersebut kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab antara siswa dan delegasi dari Pessel. Interaksi ini membuka ruang bagi peserta untuk melihat bagaimana pengetahuan mengenai pengolahan bahan organik diperkenalkan dan dipraktikkan dalam proses pembelajaran di sekolah. SMKS Katolik St. Petrus X Insana merupakan sekolah swasta dengan lebih dari 400 siswa dan delapan program keahlian. Selain pembelajaran di kelas, sekolah juga mengembangkan pengalaman kewirausahaan melalui produk yang dihasilkan siswa.
Hasil penjualan produk dikelola dengan skema pembagian 60 persen untuk siswa, 20 persen untuk guru, dan 20 persen untuk sekolah. Skema tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran pengelolaan usaha sekaligus memberikan kesempatan kepada siswa untuk memiliki modal kerja yang dapat dimanfaatkan setelah menyelesaikan pendidikan.
Belajar MTOT Langsung di Lahan
Dari sekolah, rombongan melanjutkan perjalanan menuju demplot padi di Desa Kleja. Di lokasi ini, pertukaran pengetahuan beralih dari ruang sekolah ke lahan pertanian. Petani dari Pessel dan TTU bertemu langsung untuk membahas penerapan Mulsa Tanpa Olah Tanah (MTOT) berdasarkan pengalaman masing-masing.
Tiga petani asal Pessel, Asmarmon, Dalwardi, dan Darmini, berbagi pengalaman mengenai penerapan MTOT kepada petani di Kleja. Salah seorang petani di lokasi tersebut sebelumnya juga telah mengikuti proses pembelajaran di Pessel, sehingga pertemuan kali ini menjadi kesempatan untuk melihat kembali penerapan pengetahuan yang telah diperoleh.
Di petak sawah, peserta melihat lahan yang telah ditutup menggunakan jerami. Petani Pessel kemudian memperagakan proses penanaman di atas lapisan jerami tersebut. Diskusi berlangsung di tengah lahan, membahas tahapan penerapan MTOT sekaligus pengalaman menghadapi hama dan langkah penanganannya berdasarkan kondisi yang ditemui petani. 
Pertemuan di lahan tersebut memperlihatkan bahwa penerapan metode pertanian tidak dapat dilepaskan dari kondisi setempat. Pengalaman petani menjadi bahan untuk mendiskusikan bagaimana suatu praktik dapat diterapkan, disesuaikan, dan dikembangkan berdasarkan karakteristik lahan serta persoalan yang dihadapi.
Melanjutkan Pembelajaran di Oekopa
Pembelajaran kemudian berlanjut ke Desa Oekopa pada siang hari. Rombongan meninjau petak sawah milik Edi, petani TTU yang sebelumnya mengikuti kunjungan pembelajaran ke Pessel.
Di hadapan petani Oekopa, Edi membagikan perkembangan penerapan MTOT di lahannya. Diskusi berlangsung melalui tanya jawab mengenai persiapan lahan, tahapan penerapan, hingga kondisi yang perlu diperhatikan dalam proses budidaya.
Penerapan MTOT di Oekopa menghadapi kondisi yang berbeda dibandingkan dengan pengalaman yang dibawa dari Pessel. Persiapan lahan sedikit terlambat karena setelah kembali dari Pessel, petani belum memasuki masa panen. Meski demikian, kondisi tersebut tidak menghentikan rencana penerapan MTOT.
Penyuluh dan petani tetap berkomitmen melanjutkan praktik tersebut dengan menyesuaikan waktu dan tahapan budidaya di lapangan. Bagi petani, proses ini menjadi bagian dari pembelajaran untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh dari pertukaran pengalaman dengan mempertimbangkan kondisi setempat.

Rangkaian kegiatan hari kedua memperlihatkan bahwa pertukaran pengetahuan Pessel dan TTU berlangsung melalui berbagai ruang belajar, mulai dari lingkungan sekolah hingga lahan pertanian. Pessel membawa pengalaman penerapan MTOT, sementara TTU memperlihatkan praktik pembuatan dan pemanfaatan ekoenzim yang dikembangkan di sekolah dan masyarakat.
Pertemuan antarpelaku tersebut tidak hanya menjadi kesempatan untuk berbagi praktik, tetapi juga membuka ruang bagi kedua daerah untuk melihat bagaimana pengetahuan dapat disesuaikan dengan kondisi lokal. MTOT dan ekoenzim menjadi bagian dari pembelajaran bersama dalam mengembangkan praktik pertanian yang lebih efisien dalam penggunaan biaya dan sumber daya, sekaligus memperhatikan aspek lingkungan.
Timor Tengah Utara, 23 September 2026




