Kefamenanu | lp2m.or.id —Delegasi Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Sumatera Barat, memulai kunjungan pertukaran pengetahuan lanjutan selama tiga hari di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, Rabu (23/9). Kegiatan yang didukung GIZ Indonesia melalui program SDGs-SSTC Fase II ini merupakan kunjungan balasan setelah delegasi TTU melakukan pembelajaran ke Pessel pada 11–13 Agustus 2026.
Hari pertama kegiatan diikuti 90 peserta, terdiri atas 68 laki-laki dan 22 perempuan. Rombongan diterima oleh Plh. Sekretaris Daerah TTU yang mewakili Bupati TTU di Aula Bapperida TTU. Dalam sambutannya, Plh. Sekda TTU menyampaikan bahwa sekitar 39–40 persen penduduk TTU menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian, sementara sekitar 20 persen penduduk masih berada di bawah garis kemiskinan. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena sekitar separuh lahan pertanian di TTU masih bergantung pada air hujan, dengan musim hujan yang berlangsung sekitar tiga hingga empat bulan dalam setahun. 
Karena itu, pertukaran pengetahuan mengenai Sawah Pokok Murah (SPM)/Mulsa Tanpa Olah Tanah (MTOT) dan ekoenzim diharapkan tidak berhenti pada proses berbagi pengalaman, tetapi dapat ditindaklanjuti melalui penerapan di lapangan.
Kepala Bapperida Pesisir Selatan, Subchandri, mengatakan kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi Pessel untuk belajar dari masyarakat TTU dalam mengembangkan inovasi pertanian di tengah keterbatasan sumber daya, khususnya air. Menurutnya, Pessel juga menghadapi tantangan berupa kemiskinan yang berkaitan dengan sektor pertanian serta persoalan sumber daya manusia pertanian.
“Kami ingin memetik pelajaran tentang bagaimana masyarakat TTU tetap berinovasi di tengah keterbatasan air,” ujar Subchandri.
Perwakilan GIZ Indonesia sekaligus GIZ SDGs-SSTC Commission Manager, Zulazmi, mengingatkan agar setiap inovasi yang dikembangkan tetap mempertimbangkan kondisi dan kemampuan petani sebagai pengguna utama.
“Jangan sampai gagasan yang kita bawa justru menyulitkan petani,” ujarnya.
Memperkuat Kolaborasi melalui Sekretariat SDGs
Selain berbagi pengalaman mengenai praktik pertanian, pertemuan hari pertama juga menjadi ruang untuk membahas penguatan kolaborasi pembangunan berkelanjutan antardaerah.
Dalam rapat koordinasi antarsekretariat SDGs, Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan membagikan pengalaman dalam membangun Sekretariat SDGs melalui Surat Keputusan (SK). Pessel juga memperkenalkan Dapur Kolaborasi sebagai ruang kemitraan multipihak yang berfungsi sebagai pusat koordinasi, clearing house, sekaligus think tank dalam mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. 
Pertukaran pengalaman tersebut menjadi bagian dari upaya kedua daerah untuk melihat kemungkinan penguatan kerja sama antarsekretariat SDGs, termasuk melalui komunikasi dan pembelajaran secara berkelanjutan.
Berbagi Praktik SPM/MTOT yang Hemat Air
Sesi berikutnya dilanjutkan dengan dialog antara Dinas Pertanian Pessel dan TTU. Delegasi Pessel memaparkan penerapan Sawah Pokok Murah (SPM) atau Mulsa Tanpa Olah Tanah (MTOT), sebuah metode budidaya yang dikembangkan untuk menghemat penggunaan air sekaligus beradaptasi dengan kondisi perubahan iklim.
Dalam pemaparan tersebut, penerapan SPM/MTOT di Pessel dilaporkan mampu menghasilkan hingga 11 ton gabah per hektare, sementara hasil sawah dengan metode konvensional berada pada kisaran 6 ton per hektare. Praktik tersebut juga dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan lebih lanjut melalui penggunaan bahan-bahan lokal, termasuk ekoenzim. 
Pertukaran pengetahuan tidak hanya menghadirkan pemerintah dan pendamping, tetapi juga melibatkan petani sebagai pelaku langsung. Ibu Darmini, petani perempuan dari Pessel, turut menjadi narasumber dan membagikan pengalaman penerapan praktik pertanian yang telah dilakukan di daerahnya.
Keterlibatan petani dalam forum tersebut memperlihatkan bahwa pengetahuan pertanian tidak hanya berasal dari lembaga pemerintah atau tenaga teknis, tetapi juga berkembang dari pengalaman petani di lapangan.
Mengenal Bank Ekoenzim di TTU
Pada sore hari, rangkaian kegiatan berlanjut dengan kunjungan ke lopo yang sekaligus menjadi bank ekoenzim milik Plt. Kepala Dinas Pertanian TTU, Charles Malalek. Bersama Happy dari Yayasan Nusa Timor Mandiri (YNTM), Charles menjelaskan proses pengolahan dan pemanfaatan ekoenzim yang telah dikembangkan di TTU.
Peserta diperkenalkan dengan tiga jenis produk yang dikembangkan, yakni ekoenzim klasik yang dipanen setelah proses fermentasi selama satu tahun, serum ekoenzim yang dapat digunakan setelah tujuh hari, serta biowash yang dapat digunakan setelah sekitar tiga hari.
Di lokasi tersebut, peserta juga melihat langsung ekoenzim yang telah berusia hingga lima tahun serta sejumlah produk turunannya, seperti sabun batang dan sabun cuci.
Lopo tersebut tidak hanya menjadi tempat penyimpanan dan pengolahan ekoenzim, tetapi juga dikembangkan sebagai bank ekoenzim dengan produksi dalam jumlah besar. Ekoenzim yang dihasilkan dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, baik di sektor pertanian maupun penggunaan lainnya, termasuk kesehatan. Sebagian produksinya juga diberikan secara gratis kepada petani untuk mendukung pemanfaatan bahan organik dan pengembangan praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan. 
Pertemuan hari pertama memperlihatkan bahwa pertukaran pengetahuan antara Pessel dan TTU tidak hanya berlangsung melalui forum diskusi, tetapi juga melalui pengalaman langsung di lapangan. Dari metode budidaya yang berupaya menghemat air hingga pengolahan ekoenzim berbasis bahan organik, kedua daerah saling berbagi praktik sekaligus melihat peluang penerapannya sesuai dengan kondisi masing-masing. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari rangkaian pertukaran pengetahuan lanjutan Pessel–TTU dalam program SDGs-SSTC Fase II, dengan harapan pembelajaran yang diperoleh dapat dilanjutkan melalui praktik dan kerja sama antarpihak di masing-masing daerah.
Timor Tengah Utara, 22 September 2026



