Selasa, April 14, 2026
  • Login
LP2M
  • Tentang
  • Agenda
  • Kontak
  • Publikasi
    • INFO KEGIATAN
    • SIARAN PERS
    • PENELITIAN
    • LAPORAN
      • Laporan Keuangan
      • Laporan Tahunan
      • Pembelajaran Program
  • Donasi
No Result
View All Result
LP2M
  • Tentang
  • Agenda
  • Kontak
  • Publikasi
    • INFO KEGIATAN
    • SIARAN PERS
    • PENELITIAN
    • LAPORAN
      • Laporan Keuangan
      • Laporan Tahunan
      • Pembelajaran Program
  • Donasi
No Result
View All Result
LP2M
Home Publikasi Info Kegiatan

Workshop Manajemen Mitigasi Bencana & Pertolongan Pertama Psikologis untuk Korban khususnya Perempuan Marginal & Keluarga

14/04/2026 | 16:13 WIB

Padang | lp2m.or.id – Pulau Sumatera merupakan salah satu wilayah dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi di Indonesia. Namun, dalam konteks saat ini, bencana tidak lagi dapat dipahami semata sebagai fenomena alam. Perubahan iklim, deforestasi, serta praktik ekstraktivisme telah memperparah risiko dan dampak bencana yang terjadi di berbagai wilayah. Kondisi tersebut menegaskan pentingnya pendekatan yang lebih komprehensif dalam penanganan bencana, tidak hanya berfokus pada respons darurat, tetapi juga pada pemahaman akar permasalahan, penguatan manajemen risiko, serta pembangunan kesiapsiagaan yang responsif dan berperspektif gender. Hal ini juga mencakup pentingnya dukungan psikologis bagi para penyintas sebagai bagian dari proses pemulihan yang menyeluruh.

Dalam perspektif yang lebih kritis, bencana tidak selalu murni bersifat alami. Banyak bencana terjadi akibat ketidakseimbangan ekologi yang dipicu oleh eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan. Rezim ekstraktivisme mendorong pola pembangunan yang mengabaikan daya dukung dan daya tampung lingkungan, sehingga memperbesar risiko bencana dan dampaknya hingga lintas generasi. Pendekatan ekologi politik perempuan atau ekofeminisme memberikan pemahaman bahwa krisis lingkungan tidak terlepas dari relasi kuasa yang timpang. Dalam situasi ini, alam, perempuan, dan kelompok rentan seringkali menjadi pihak yang paling terdampak. Oleh karena itu, penting untuk melihat bencana tidak hanya sebagai peristiwa, tetapi sebagai hasil dari sistem sosial, ekonomi, dan politik yang perlu dikaji secara kritis. Sejalan dengan hal tersebut, manajemen bencana perlu dipahami sebagai upaya yang tidak hanya berfokus pada penanganan saat krisis terjadi, tetapi juga pada pengelolaan risiko sejak awal. Risiko bencana terbentuk dari interaksi antara ancaman, tingkat kerentanan, dan kapasitas masyarakat dalam menghadapinya. Dalam konteks perubahan iklim yang berperan sebagai threat multiplier, risiko bencana semakin meningkat, terutama akibat bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, kekeringan, dan cuaca ekstrem. Kondisi ini semakin diperburuk oleh deforestasi, alih fungsi lahan, serta perilaku masyarakat yang belum memiliki kesadaran risiko yang memadai. Oleh karena itu, diperlukan pergeseran paradigma dalam penanganan bencana, dari pendekatan tanggap darurat menuju pencegahan dan mitigasi. Upaya ini dilakukan melalui penguatan kesiapsiagaan, pengembangan sistem peringatan dini, serta peningkatan kapasitas komunitas.

Pengurangan Risiko Bencana (PRB) menjadi salah satu pendekatan kunci dalam membangun ketangguhan masyarakat. Pendekatan ini menempatkan masyarakat sebagai aktor utama, mendorong kolaborasi lintas sektor, serta memastikan adanya perlindungan khusus bagi kelompok rentan dalam setiap tahap penanganan bencana. Dalam situasi bencana, penyintas—terutama perempuan, anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas—sering menghadapi kerentanan yang berlapis. Kondisi pengungsian yang terbatas dari segi perlindungan dan keamanan meningkatkan risiko terjadinya kekerasan, eksploitasi, serta tekanan psikologis. Ketidaksetaraan gender semakin memperparah situasi tersebut, karena perempuan seringkali memiliki keterbatasan akses dan bergantung pada pihak lain dalam kondisi darurat. Di tengah situasi tersebut, dukungan awal dari lingkungan sekitar menjadi sangat penting. Pertolongan Pertama Psikologis (Psychological First Aid/PFA) hadir sebagai keterampilan dasar yang dapat dilakukan oleh siapa saja di komunitas. Pendekatan ini bertujuan untuk memberikan dukungan emosional awal, membantu menenangkan penyintas, serta mencegah dampak psikologis yang lebih berat. Dengan demikian, penanganan psikologis menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari penanganan fisik dalam situasi bencana. Lebih lanjut, penting untuk menyadari bahwa bencana tidak berdampak secara setara bagi semua kelompok. Berbagai studi menunjukkan bahwa perempuan dan anak-anak memiliki risiko yang lebih tinggi dalam situasi bencana. Hal ini menunjukkan bahwa risiko tidak hanya ditentukan oleh faktor alam, tetapi juga oleh ketimpangan sosial, gender, dan akses terhadap sumber daya.  Oleh karena itu, pendekatan mitigasi dan kesiapsiagaan perlu dikembangkan secara lebih kritis dan inklusif melalui perspektif Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI). Pendekatan ini mendorong perubahan paradigma dari sekadar mitigasi teknis menjadi upaya yang lebih transformatif. Tujuannya tidak hanya agar masyarakat mengetahui langkah-langkah yang harus dilakukan, tetapi juga mampu mengidentifikasi, mempertanyakan, dan mengatasi hambatan struktural yang menyebabkan sebagian kelompok menjadi lebih rentan.

Melalui pendidikan kritis berbasis GEDSI, masyarakat didorong untuk memahami siapa yang paling berisiko tertinggal, mengapa hal tersebut terjadi, serta bagaimana sistem yang ada dapat diubah agar lebih adil dan inklusif. Dengan demikian, ketangguhan terhadap bencana tidak hanya diukur dari kemampuan bertahan, tetapi juga dari kemampuan membangun sistem sosial yang lebih setara. Melalui pelaksanaan workshop ini, diharapkan peserta tidak hanya memahami bencana sebagai sebuah kejadian, tetapi sebagai risiko yang perlu dikelola secara sadar dan berkelanjutan. Penguatan kapasitas dalam manajemen bencana, pertolongan pertama psikologis, serta pendidikan kritis berbasis GEDSI diharapkan mampu melahirkan aktor-aktor yang mendorong kesiapsiagaan di tingkat komunitas. Ke depan, penanganan bencana diharapkan tidak hanya berfokus pada respons darurat, tetapi juga pada pencegahan, keadilan sosial, serta pemulihan yang inklusif. Dengan pendekatan yang komprehensif dan kolaboratif, masyarakat diharapkan tidak hanya mampu bertahan dalam situasi krisis, tetapi juga menjadi lebih tangguh dalam menghadapi berbagai risiko di masa mendatang.

Padang, 08-09 April 2026

Baca Juga

Cerita Perubahan

Cerita dari Akar Rumput “Kebun Kecil, Manfaat Besar : Cerita Buk Santi Memanfaatkan Pekarangan Rumah untuk Ketahanan Pangan Keluarga

16/03/2026 | 10:48 WIB
Info Kegiatan

Mewujudkan Resiliensi Perempuan Sumatera & Mendesak Komitmen Pemerintah Dalam Menangani Dampak dan Penyebab Bencana Ekologis

09/03/2026 | 14:00 WIB
Cerita Perubahan

Cerita dari Akar Rumput: Ketahanan Pangan Berbasis Rumah Tangga, Ketika Pekarangan Menjadi Sumber Kemandirian

26/02/2026 | 11:28 WIB

LP2M

  • Tentang
  • Team
  • Kontak
  • Donasi

Copyright ©  Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Masyarakat (LP2M)
Didukung oleh: TrayDigita Kreasi Teknologi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Tentang
  • Agenda
  • Kontak
  • Publikasi
    • INFO KEGIATAN
    • SIARAN PERS
    • PENELITIAN
    • LAPORAN
      • Laporan Keuangan
      • Laporan Tahunan
      • Pembelajaran Program
  • Donasi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.