Padang | lp2m.or.id- Sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, Kelompok Perempuan Suko dan Bunga Setangkai kembali melanjutkan proses pembelajaran melalui Sekolah Lapang (SL). Kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama bagi masyarakat untuk memahami dan mempraktikkan berbagai teknik pertanian adaptif yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari guna mendukung ketahanan pangan keluarga.
Pada pertemuan kali ini, peserta mengikuti serangkaian praktik lapangan yang mencakup pembuatan rumah semai bibit, penerapan sistem refugia pada lahan belajar, perbanyakan tanaman pisang menggunakan bonggol, serta pengujian sederhana terhadap beberapa larutan yang umum digunakan dalam budidaya tanaman, termasuk pupuk organik cair (POC) hasil produksi kelompok.
Kegiatan diawali dengan penataan dan perbaikan rumah semai sebagai sarana penyemaian bibit tanaman. Rumah semai memiliki peran penting dalam melindungi benih dan bibit pada fase awal pertumbuhan sehingga tanaman dapat tumbuh lebih sehat dan kuat sebelum dipindahkan ke lahan budidaya. Melalui praktik ini, peserta memahami bahwa kualitas bibit menjadi salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan budidaya tanaman.
Pembelajaran kemudian dilanjutkan dengan praktik perbanyakan tanaman pisang menggunakan bonggol. Dalam kegiatan ini, peserta mempelajari cara memanfaatkan bonggol pisang yang dibelah menjadi beberapa bagian untuk dijadikan bibit baru. Teknik ini diperkenalkan sebagai salah satu alternatif perbanyakan tanaman yang mudah dilakukan, murah, dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar masyarakat.
Selain praktik budidaya, peserta juga melakukan uji ion sederhana terhadap beberapa sampel larutan, yaitu air beras, urea, NPK, pupuk organik cair (POC), air pisang, teh, dan air putih. Kegiatan ini bertujuan mengenalkan peserta pada konsep dasar unsur hara dan kandungan terlarut yang terdapat dalam berbagai bahan yang sering digunakan dalam budidaya tanaman. Pengujian dilakukan menggunakan alat sederhana dengan indikator lampu sebagai media pembelajaran.

Dari hasil pengamatan, lampu indikator menunjukkan respons pada larutan NPK dan pupuk organik cair (POC) yang dibuat oleh anggota kelompok. Hasil ini menjadi sarana pembelajaran bagi peserta untuk memahami bahwa pupuk organik cair mengandung unsur-unsur terlarut yang dapat dimanfaatkan dalam mendukung pertumbuhan tanaman. Melalui praktik ini, peserta semakin memahami pentingnya pemanfaatan pupuk organik sebagai salah satu alternatif dalam mendukung budidaya tanaman yang lebih ramah lingkungan.
Rangkaian kegiatan Sekolah Lapang ini tidak hanya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan teknis peserta dalam bidang pertanian, tetapi juga mendorong tumbuhnya kesadaran untuk memanfaatkan sumber daya lokal yang tersedia di sekitar mereka. Berbagai praktik yang dipelajari menunjukkan bahwa upaya memperkuat ketahanan pangan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana, seperti memproduksi bibit secara mandiri, memanfaatkan bahan-bahan lokal untuk pembuatan pupuk organik, dan mengoptimalkan lahan yang tersedia untuk budidaya tanaman.

Melalui pembelajaran yang berkelanjutan, Sekolah Lapang diharapkan dapat memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengembangkan sistem pertanian yang lebih adaptif, berkelanjutan, dan mampu mendukung ketahanan pangan keluarga di tengah berbagai tantangan perubahan iklim yang semakin kompleks.
Kota Padang, 11 Juni 2026
Dokumentasi dan data lapangan dihimpun oleh Fifi Alfiah.



