Padang | lp2m.or.id- Pesisir Selatan–Timor Tengah Utara, 29 Mei 2026 – Semangat kolaborasi dan pembelajaran lintas daerah diperkuat melalui kegiatan Pertukaran Pengetahuan (Knowledge Exchange) antara Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat, dan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kegiatan yang difasilitasi oleh GIZ melalui Program SDGs-SSTC ini mempertemukan pemerintah daerah, penyuluh pertanian, kelompok tani, organisasi masyarakat sipil, akademisi, dan mitra pembangunan untuk saling berbagi praktik baik dalam mendukung implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Belajar dari Praktik Baik Daerah
Kegiatan yang dilaksanakan secara daring pada hari Jumat, 29 Mei 2026 ini bertujuan untuk mempertemukan dua inovasi lokal yang telah terbukti memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan, yaitu Mulsa Tanpa Olah Tanah (MTOT) yang berkembang di Kabupaten Pesisir Selatan dan Eco Enzyme (EE) yang dikembangkan di Kabupaten Timor Tengah Utara. Selain berbagi pengalaman implementasi, forum ini juga menjadi ruang untuk mengidentifikasi peluang adaptasi, replikasi, serta memperkuat kolaborasi multipihak antar daerah. Sebanyak 71 peserta dari Sumatera Barat dan Nusa Tenggara Timur mengikuti kegiatan ini. Peserta berasal dari pemerintah daerah, sekretariat SDGs, penyuluh pertanian, kelompok tani, lembaga swadaya masyarakat, akademisi, serta mitra pembangunan.

Eco Enzyme: Solusi Lokal untuk Pertanian Organik
Dalam paparannya, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Timor Tengah Utara, Chairel Malelak, SP., M.Si. menjelaskan bahwa Eco Enzyme merupakan produk hasil fermentasi limbah organik buah-buahan yang dimanfaatkan untuk mendukung pertanian organik dan pengelolaan lingkungan. Penerapan Eco Enzyme di desa-desa pilot MSP (Multi Stakeholder Partnership) Kabupaten TTU menunjukkan hasil yang menjanjikan. Semisal Eco Enzym untuk budidaya padi yang diterapkan di Kecamatan Biboki Anleu, Kab. TTU sejak 5 tahun terakhir. Selain itu, Eco Enzym diterapkan juga di desa Pilot, yaitu Desa Kiuola. Peningkatan produksi setelah penggunaan Eco Enzym ini cukup signifikan yaitu dari 3,7 ton/ha per hektar meningkat menjadi 7-8 ton/ha. Bahkan setelah 5 tahun pemakaian di lokasi yang sama, produksinya meningkat menjadi 13 ton/ha. Beras eco enzyme yang dihasilkan dipasarkan dengan merek Beras Bian yang memiliki texture dan rasa yang khas. Di Lokasi lain, yaitu Desa Oekopa Eco Enzym diterapkan untuk sawah yang ditanami padi varietas Lamping, hasilnya mencapai 7,9 ton/ha. Eco Enzym pun cocok digunakan di lahan kering atau padi ladang dengan topografi dan tanah kapur, meningkatkan padi ladang hingga 2,7 ton/ha.Praktik ini saat ini telah diterapkan di seluruh desa pilot MSP pertanian berkelanjutan di Kabupaten TTU dengan dukungan pemerintah daerah, penyuluh pertanian lapangan, Yayasan Nusa Timor Mandiri (YNTM), dan Yayasan Krisna Galensya.
MTOT: Inovasi Pertanian Hemat Biaya dan Ramah Lingkungan
Dari Kabupaten Pesisir Selatan, Suhatril Isra, SP dari Dangau Inspirasi Pusat Riset dan Inovasi Pedesaan (DIPRIP) salah satu stakeholder MSP memaparkan pengalaman penerapan Mulsa Tanpa Olah Tanah (MTOT) sebagai solusi atas berbagai tantangan yang dihadapi petani, mulai dari tingginya biaya produksi, menurunnya kesuburan tanah, keterbatasan air, hingga ketergantungan terhadap pupuk kimia. Metode MTOT memanfaatkan jerami sebagai mulsa tanpa melakukan pengolahan tanah secara intensif. Pendekatan ini terbukti mampu menjaga kelembaban tanah, mengurangi pertumbuhan gulma, menekan erosi, mengurangi penggunaan pupuk kimia, serta menghilangkan praktik pembakaran jerami yang berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca. Keberhasilan MTOT telah mendorong adopsi metode ini di 18 kabupaten/kota di Sumatera Barat dan mulai menarik perhatian daerah lain untuk direplikasi. Penerapan teknik MTOT terbukti mendorong hasil lebih tinggi, resistensi lebih besar terhadap kekeringan, resistensi lebih besar terhadap hama/penyakit, pertumbuhan baik, tidak ada / lebih sedikit gulma sehingga berpengaruh signifikan terhadap penghematan biaya untuk tenaga kerja, tangkai lebih kuat dan kerobohan tanaman berkurang, dan tanah menjadi lebih baik dan menyimpan lebih banyak pupuk.
Kolaborasi Multipihak sebagai Kunci Keberhasilan
Salah satu pelajaran penting yang muncul dari diskusi adalah bahwa keberhasilan kedua inovasi tersebut tidak hanya ditentukan oleh teknologi atau metode yang digunakan, tetapi juga oleh kuatnya kolaborasi multipihak (Multi-Stakeholder Partnership/MSP). Hal ini ditegaskan juga oleh Ramadhaniati dari Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Masyarakat Sumatera Barat, dan Krisna Hau Oni dari Yayasan Krisna Galensya, dimana kedua lembaga ini menjadi fasilitator pendamping MSP di masing-masing daerah.
Para peserta menyoroti pentingnya peran pemerintah daerah, penyuluh pertanian, kelompok tani, organisasi masyarakat sipil, akademisi, dan sektor lainnya dalam membangun kesadaran, memfasilitasi transfer pengetahuan, serta memastikan keberlanjutan inovasi di tingkat masyarakat. Pakar Eco Enzyme dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Dr. Dian Masita Dewi, SE, MM, menegaskan bahwa proses transfer pengetahuan memerlukan agen perubahan (change agent) yang mampu menjembatani pengetahuan dengan praktik di lapangan. Ia juga menilai bahwa kombinasi MTOT dan Eco Enzyme berpotensi memberikan kontribusi signifikan terhadap pencapaian berbagai tujuan SDGs, diantaranya Goal 3, Goal 4, Goal 6, Goal 11, Goal 12, dan Goal 13.
Dari Berbagi Pengetahuan Menuju Aksi Bersama
Diskusi interaktif menghasilkan kesepahaman bahwa Eco Enzyme dan MTOT merupakan dua inovasi berbasis bukti yang saling melengkapi. Keduanya dinilai ramah lingkungan, hemat biaya, memanfaatkan sumber daya lokal, dan dapat diterapkan pada berbagai sistem pertanian, baik lahan basah, lahan kering, maupun hortikultura. Sebagai tindak lanjut, dengan didukung oleh GIZ para peserta menyepakati pentingnya melaksanakan kunjungan pembelajaran (learning visit) antara Kabupaten Timor Tengah Utara dan Kabupaten Pesisir Selatan untuk memperdalam pemahaman praktik lapangan, membangun demplot integrasi MTOT dan Eco Enzyme, serta memperkuat jejaring kolaborasi antar daerah.
Commission Manager GIZ SDGs-SSTC, Zulazmi, menegaskan bahwa pengalaman dan pengetahuan yang lahir dari praktik lokal memiliki nilai penting dalam menjawab tantangan pembangunan global. Melalui pembelajaran dua arah ini, kedua daerah diharapkan dapat saling memperkaya pengalaman dan mempercepat replikasi inovasi pertanian berkelanjutan di Indonesia. Pertukaran pengetahuan ini menjadi bukti bahwa solusi pembangunan berkelanjutan dapat tumbuh dari praktik-praktik lokal yang sederhana, kemudian diperkuat melalui kolaborasi, pembelajaran bersama, dan kemitraan yang inklusif. Dengan semangat tersebut, Kabupaten Pesisir Selatan dan Kabupaten Timor Tengah Utara menunjukkan bahwa inovasi lokal dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam mewujudkan pertanian berkelanjutan dan pencapaian SDGs. 




