Agam | lp2m.or.id—Panen bersama di demplot Minapadi Nagari Paninjauan tidak sekadar menjadi penanda berakhirnya proses budidaya. Kegiatan ini menjadi ruang bagi kelompok tani dan para pihak yang terlibat untuk melihat hasil penerapan minapadi sekaligus merefleksikan proses, kontribusi masing-masing pihak, serta pembelajaran yang dapat menjadi dasar perbaikan ke depan.
Demplot minapadi merupakan bagian dari pelaksanaan program pemulihan ekonomi berbasis ekosistem pascabencana yang diintegrasikan dengan pendekatan budidaya padi dan ikan dalam satu lahan. Pelaksanaannya melibatkan kelompok tani, pemerintah nagari, perangkat daerah, lembaga pendamping, serta masyarakat dengan memperhatikan keterlibatan perempuan, anak muda, lansia, dan kelompok penyandang disabilitas.
Bagi anggota Kelompok Gabungan Minapadi Nagari Paninjauan yang tergabung dalam Sekolah Lapangan (SL) Minapadi, panen menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung hasil dari proses pembelajaran dan praktik yang telah dilakukan selama pelaksanaan sekolah lapangan. Demplot yang dikelola oleh kelompok menjadi ruang belajar untuk menguji penerapan pengetahuan sekaligus melihat potensi pengembangan minapadi di tingkat petani. 
Kegiatan panen bersama melibatkan anggota Kelompok Gabungan Minapadi Nagari Paninjauan, Pemerintah Nagari Paninjauan, Dinas Pertanian, Dinas Perikanan dan Pangan, BPP Tanjung Raya, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatera Barat, dan Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Masyarakat (LP2M).
Persiapan teknis kegiatan dilakukan bersama oleh kelompok tani dengan dukungan perangkat nagari. Keterlibatan para pihak tidak hanya terlihat pada saat panen, tetapi juga dalam proses pelaksanaan demplot. Selama kegiatan berlangsung, tidak ditemukan kendala berarti. Masing-masing pihak berkontribusi sesuai dengan peran yang dijalankan.
Melihat Potensi dari Demplot
Salah satu catatan penting dari panen bersama adalah hasil pengukuran sampel produksi padi. Dari sampel lahan berukuran 2 × 2 meter, diperoleh hasil panen sebanyak 4,1 kilogram padi. Jika dikonversikan ke luasan satu hektare, hasil tersebut setara dengan potensi produksi sekitar 10,25 ton per hektare.
Angka tersebut merupakan hasil konversi dari sampel demplot, sehingga belum dapat dipandang sebagai hasil produksi aktual satu hektare. Namun, hasil pengukuran tersebut memberikan gambaran mengenai potensi yang dapat dikembangkan melalui penerapan sistem minapadi. 
Hasil di demplot juga belum sepenuhnya optimal karena terdapat serangan hama tikus. Kondisi tersebut menjadi salah satu catatan evaluasi bagi petani untuk memperbaiki pengelolaan pada musim tanam berikutnya. Bagi kelompok tani, pengalaman selama pelaksanaan demplot menjadi pembelajaran penting untuk melihat apa yang telah berhasil dan aspek apa yang masih perlu diperbaiki.
Dari sisi pemerintah daerah, penerapan minapadi di Paninjauan dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut.
“Demplot SPM Minapadi sepertinya memang baru kali ini ada di Agam, mengintegrasikan dua komoditas dalam satu lahan. Dengan hasil yang cukup memuaskan ini, akan sangat potensial untuk terus dilanjutkan,” ujar Arif dari Dinas Pertanian Agam.
Potensi pengembangan juga berkaitan dengan kondisi Nagari Paninjauan yang selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil benih ikan.
“Paninjauan sebagai daerah penghasil benih ikan, kemudian dengan adanya percontohan minapadi ini dapat dikembangkan di wilayah Tanjung Raya ke depannya, ataupun wilayah yang memiliki potensi air yang cukup,” kata Doni dari Dinas Perikanan dan Pangan.
Dari Demplot Menuju Pembelajaran Bersama
Bagi Nagari Paninjauan, keberadaan demplot tidak hanya memberikan pengalaman teknis bagi kelompok penerap, tetapi juga membuka ruang pembelajaran yang dapat dikembangkan lebih luas. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh melalui sekolah lapangan diharapkan dapat menjadi bekal bagi petani untuk menerapkan dan mengembangkan sistem minapadi sesuai dengan kondisi wilayah masing-masing.
Pemerintah Nagari Paninjauan menyatakan kesiapan untuk mendukung penguatan kapasitas kelompok tani dan membuka ruang kolaborasi lebih lanjut.
“Nagari siap mendukung peningkatan kapasitas untuk kelompok-kelompok tani di Nagari Paninjauan. Ke depannya berharap lebih banyak lagi kolaborasi serta aksi-aksi yang dapat berkontribusi dalam pembangunan di Nagari Paninjauan,” ujar Rusdi, Wali Nagari Paninjauan.
Lebih dari hasil panen, proses yang berlangsung melalui demplot minapadi memperlihatkan pentingnya kolaborasi antara masyarakat, pemerintah nagari, pemerintah daerah, dan lembaga pendamping dalam membangun praktik pemulihan ekonomi yang berbasis pada potensi lokal dan ekosistem.
Keterlibatan kelompok tani sebagai penerima manfaat sekaligus pelaksana menjadi bagian penting dari proses tersebut. Masyarakat tidak ditempatkan semata-mata sebagai penerima program, tetapi terlibat dalam proses pembelajaran, pengelolaan, pengambilan keputusan, hingga melihat dan mengevaluasi hasil dari kegiatan yang mereka jalankan.
Panen bersama akhirnya menjadi ruang untuk melihat kembali seluruh proses tersebut. Hasil yang diperoleh menjadi catatan, sementara berbagai tantangan yang ditemukan menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan. Pengalaman di Nagari Paninjauan menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi pascabencana yang berbasis ekosistem, ketika dilakukan melalui kolaborasi dan melibatkan masyarakat secara aktif, dapat menjadi bagian dari proses pembangunan yang lebih berkelanjutan sekaligus membuka peluang penguatan ekonomi petani.
Kabupaten Agam, 14 September 2026



