Peringatan Hari Kesehatan Seksual Internasional 2026 menjadi momentum untuk kembali menegaskan bahwa kesehatan dan hak seksual dan reproduksi (HKSR) merupakan bagian dari hak asasi manusia yang melekat sepanjang siklus kehidupan perempuan. Tahun ini, peringatan mengangkat tema “Merayakan Hak Kesehatan Seksual di SeluruhSiklus Kehidupan Perempuan, Khususnya Perempuan Lansia dan Pra Lansia.”
Kegiatan dilaksanakan secara hibrid melalui sejumlah titik Zoom yang terhubung dari 10 lembaga anggota Konsorsium PERMAMPU. Peserta berasal dari berbagai unsur, antara lain perempuan lansia dan pra lansia anggota Credit Union (CU), Forum Perempuan Muda (FPM), pengurus Forum Kelompok Perempuan dan Anak (FKPAR) dan CU, kader One Stop Service dan Layanan (OSS&L), Femokrat dari P3A dan layanan kesehatan, tenaga medis, Dinas Kesehatan, serta jaringan penguatan perempuan di masing-masing wilayah.
Peringatan ini sekaligus menjadi ruang untuk melihat kembali persoalan HKSR yang masih dihadapi perempuan pada berbagai tahapan kehidupan. Salah satu perhatian yang mengemuka adalah masih terbatasnya ruang aman bagi perempuan lansia untuk memperoleh informasi, menyampaikan pengalaman, serta membicarakan kebutuhan mereka terkait kesehatan seksual dan reproduksi.
Selama ini, pembahasan mengenai HKSR lebih sering dikaitkan dengan remaja dan kelompok usia produktif. Padahal, kebutuhan kesehatan seksual perempuan tidak berhenti pada usia tertentu. Perempuan lansia dan pra lansia juga menghadapi perubahan dan dinamika kesehatan seksual yang perlu dipahami, dibicarakan secara terbuka, serta ditangani tanpa stigma.

“Perempuan lansia menghadapi dinamika kesehatan seksual yang kompleks. Tetapi terkendala oleh minimnya ruang aman untuk mendiskusikannya secara kritis serta tingginya stigma masyarakat,” ujar Dina Lumbantobing, Koordinator PERMAMPU.
Berangkat dari persoalan tersebut, kegiatan tidak hanya ditempatkan sebagai ruang berbagi informasi, tetapi juga sebagai ruang refleksi dan penyadaran. Pendekatan Heart, Mind, Body digunakan untuk membantu peserta memahami HKSR melalui tiga dimensi yang saling berkaitan.
Pada dimensi Heart, pembahasan menekankan pengalaman, rasa aman, empati, serta otonomi tubuh tanpa stigma. Dimensi Mind diarahkan pada pembongkaran mitos dan fakta, penguatan informasi ilmiah dan medis, serta pemetaan isu yang dapat menjadi bagian dari agenda advokasi. Sementara itu, dimensi Body menekankan kesadaran terhadap kondisi fisik, pemeriksaan medis, serta aktivitas tubuh dan gerak bersama.
Pendekatan tersebut menempatkan pengalaman perempuan sebagai bagian penting dalam memahami kesehatan seksual dan reproduksi. Informasi medis tidak berdiri sendiri, tetapi dipertemukan dengan pengalaman, kondisi tubuh, rasa aman, serta kemampuan perempuan untuk mengenali dan menyuarakan kebutuhannya.
Melalui konsolidasi lintas wilayah dan lintas kelompok, peringatan Hari Kesehatan Seksual Internasional 2026 memperluas perhatian terhadap isu HKSR agar tidak berhenti pada kelompok usia tertentu. Hak kesehatan seksual dan reproduksi merupakan hak setiap perempuan sepanjang siklus kehidupannya, termasuk perempuan lansia dan pra lansia.
Peringatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pemenuhan HKSR membutuhkan ruang yang aman, informasi yang tepat, serta lingkungan yang memungkinkan perempuan berbicara mengenai tubuh dan kebutuhannya tanpa stigma. Dengan demikian, pembicaraan mengenai kesehatan seksual tidak hanya menjadi isu kesehatan, tetapi juga bagian dari upaya memastikan hak, martabat, dan otonomi perempuan tetap dihormati sepanjang kehidupannya.



