Pesisir Selatan| lp2m.or.id —Rangkaian pertukaran pengetahuan antara Kabupaten Pesisir Selatan dan Timor Tengah Utara (TTU) memasuki hari ketiga sekaligus menjadi penutup kegiatan. Agenda hari terakhir difokuskan pada pengenalan, pembahasan, dan praktik pembuatan ekoenzim yang dikembangkan di TTU sebagai salah satu inovasi pengelolaan sampah organik yang berpotensi mendukung praktik pertanian berkelanjutan.
Ekoenzim dibuat melalui proses fermentasi bahan organik berupa buah, gula, dan air selama minimal tiga bulan. Komposisi yang diperkenalkan dalam kegiatan ini terdiri atas 1 kilogram gula, 3 kilogram bahan organik, dan 10 liter air. Setelah melalui proses fermentasi, larutan ekoenzim dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, termasuk mendukung pemeliharaan tanaman, pengelolaan bahan organik, serta kebutuhan lain di tingkat rumah tangga dan pertanian.
Di TTU, pengembangan ekoenzim telah berlangsung selama enam tahun sebagai bagian dari upaya mendorong pengelolaan sampah rumah tangga sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. Praktik ini juga dikaitkan dengan upaya mendukung pencapaian sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya Goals 11, 12, 13, 14, 15, dan 17.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah organik dapat dikembangkan menjadi praktik yang memiliki manfaat lebih luas bagi masyarakat. Hingga saat ini, sekitar 70.000 liter ekoenzim telah didistribusikan melalui jaringan yang mencakup 22 kabupaten, 75 kelompok di tingkat nasional, hingga jejaring di luar negeri.
Dalam pertukaran pengetahuan ini, peserta tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai konsep dan manfaat ekoenzim, tetapi juga mengikuti praktik pembuatannya. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan praktik pembuatan pupuk bokashi dan pupuk organik cair yang memanfaatkan bahan-bahan lokal dan membutuhkan proses fermentasi hingga siap digunakan. 
Bagi kelompok tani di Sungai Gayo Lumpo, pengetahuan tersebut menjadi salah satu alternatif yang dapat dikembangkan dalam praktik pertanian sehari-hari. Ibu Darmini, yang mewakili kelompok tani setempat, menyampaikan komitmen untuk mengimplementasikan pembuatan dan pemanfaatan ekoenzim di tingkat kelompok. Harapannya, inovasi tersebut dapat mendukung pengelolaan bahan organik sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan.
Pertukaran pengetahuan antara Pesisir Selatan dan TTU memperlihatkan bahwa inovasi pertanian dapat berkembang melalui proses belajar lintas wilayah. Pesisir Selatan berbagi pengalaman penerapan Mulsa Tanpa Olah Tanah (MTOT), sementara TTU membawa pengalaman pengembangan ekoenzim. Keduanya menjadi praktik yang saling melengkapi dalam mendorong pemanfaatan sumber daya lokal, mengurangi ketergantungan pada input eksternal, dan memperkuat praktik pertanian yang lebih berkelanjutan.
Bagi LP2M sebagai mitra GIZ dalam memfasilitasi proses pembelajaran bersama kelompok petani di Sungai Gayo Lumpo, pertukaran ini menjadi ruang untuk mempertemukan pengalaman, pengetahuan, dan inovasi dari dua wilayah. Proses tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pertukaran, tetapi berlanjut melalui penerapan dan pengembangan praktik yang sesuai dengan kebutuhan petani dan kondisi lokal.
Penutupan kegiatan bukan menjadi akhir dari proses belajar, melainkan awal untuk menguji bagaimana pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan di lapangan. Dari MTOT hingga ekoenzim, pengalaman Pesisir Selatan dan TTU menunjukkan bahwa pertanian berkelanjutan dapat dibangun melalui inovasi sederhana, pemanfaatan sumber daya lokal, dan kemauan untuk saling belajar.
Kamis, 13 Agustus 2026



