Padang | lp2m.or.id- Pemulihan pascabencana tidak hanya berfokus pada perbaikan infrastruktur dan lingkungan fisik, tetapi juga menyangkut keberlanjutan sumber penghidupan masyarakat. Di Kelurahan Kapalo Koto, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumatera Barat, upaya pemulihan tersebut dilakukan melalui kegiatan Assessment Kondisi Tanah untuk Potensi Pertanian Terdampak Bencana sebagai langkah awal dalam mendukung pemulihan lahan pertanian pascagalodo.
Kegiatan ini melibatkan anggota Kelompok Suko dan Kelompok Bunga Setangkai yang difasilitasi oleh dosen dari Universitas Andalas. Dalam prosesnya, masyarakat diajak melihat langsung kondisi tanah pertanian yang terdampak bencana sekaligus memperoleh pemahaman mengenai cara pengelolaan lahan yang lebih tepat agar tetap produktif setelah galodo.
Melalui pendampingan ini, masyarakat mulai memahami bahwa kondisi tanah pascabencana sangat memengaruhi hasil pertanian. Banjir dan material yang terbawa saat bencana menyebabkan perubahan pada kondisi tanah, termasuk menurunnya tingkat kesuburan lahan. Akibatnya, lahan yang sebelumnya produktif menjadi sulit dimanfaatkan secara optimal untuk kebutuhan pertanian masyarakat.
Karena itu, asesmen kondisi tanah menjadi penting untuk mengetahui langkah pengelolaan yang sesuai agar lahan dapat kembali dimanfaatkan untuk menanam padi, sayur, cabai, dan berbagai kebutuhan pangan harian lainnya. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya membangun kembali ketahanan pangan keluarga dan mendukung kemandirian ekonomi masyarakat pascabencana.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan baru mengenai kondisi tanah, tetapi juga memahami langkah-langkah praktis untuk memperbaiki kualitas lahan. Penggunaan pupuk kompos, kotoran ternak, serta pengaturan jenis tanaman yang ditanam secara bergantian menjadi beberapa solusi yang diperkenalkan untuk membantu meningkatkan kesuburan tanah secara bertahap.
Proses pendampingan ini menunjukkan bahwa pemulihan pertanian pascabencana memerlukan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga pada pemahaman masyarakat terhadap kondisi lingkungan dan pengelolaan lahan yang berkelanjutan. Dengan pengetahuan dan praktik yang tepat, masyarakat diharapkan dapat kembali mengelola lahan pertanian secara lebih adaptif dan tangguh menghadapi risiko bencana di masa mendatang.

Padang, 08 Mei 2026



