Rabu, Oktober 28, 2026
  • Login
LP2M
  • Tentang
  • Agenda
  • Kontak
  • Publikasi
    • INFO KEGIATAN
    • SIARAN PERS
    • PENELITIAN
    • LAPORAN
      • Laporan Keuangan
      • Laporan Tahunan
      • Pembelajaran Program
  • Donasi
No Result
View All Result
LP2M
  • Tentang
  • Agenda
  • Kontak
  • Publikasi
    • INFO KEGIATAN
    • SIARAN PERS
    • PENELITIAN
    • LAPORAN
      • Laporan Keuangan
      • Laporan Tahunan
      • Pembelajaran Program
  • Donasi
No Result
View All Result
LP2M
Home Publikasi Info Kegiatan

Dari Perubahan Iklim hingga Ancaman Bencana: Perempuan Mengenali Kerentanan Berlapis

28/10/2026 | 12:05 WIB

Padang | lp2m.or.id — Perubahan iklim tidak hanya mengubah kondisi lingkungan, tetapi juga memengaruhi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Perubahan musim yang sulit diprediksi, meningkatnya gangguan hama pada tanaman, keterbatasan air bersih, hingga ancaman bencana dapat memengaruhi kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, dampak tersebut tidak dirasakan secara sama oleh setiap orang. Perempuan dan kelompok rentan dapat menghadapi beban lebih besar karena perbedaan akses terhadap sumber daya, kondisi ekonomi, pembagian peran dalam keluarga, serta kesempatan untuk menyampaikan kebutuhan dan terlibat dalam pengambilan keputusan.

Untuk memahami persoalan tersebut, perempuan dampingan Kelompok Suko di Kelurahan Kapalo Koto dan Kelompok Bunga Setangkai di Kelurahan Lambung Bukit mengikuti kegiatan pengenalan kerentanan berlapis perempuan dan kelompok rentan di wilayah bencana. Kegiatan berlangsung pada 7 dan 9 Oktober 2026, bertempat di Sungkai, Kelurahan Kapalo Koto, Kecamatan Pauh, Kota Padang, dengan melibatkan 26 perempuan pada hari pertama dan 30 perempuan pada hari kedua.

Melalui diskusi partisipatif, peserta diajak mengenali perubahan iklim, penyebab dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat, jenis bahaya iklim, serta hubungan antara interseksionalitas, kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial (GEDSI). Mereka juga mengidentifikasi bahaya dan kelompok rentan di wilayah masing-masing untuk memahami bagaimana perbedaan kondisi sosial, ekonomi, dan akses terhadap sumber daya dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam menghadapi bencana.

Kegiatan ini menempatkan pengalaman perempuan sebagai bagian penting dari proses pembelajaran. Perubahan yang mereka amati di lingkungan, kesulitan yang dihadapi dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, hingga pengalaman ketidakadilan dalam kehidupan sosial menjadi bahan diskusi untuk memahami bahwa kerentanan tidak hanya ditentukan oleh bahaya, tetapi juga oleh kondisi yang telah dihadapi seseorang sebelum bencana terjadi.

Perubahan Iklim yang Dirasakan dalam Kehidupan Sehari-hari

Pada 7 Oktober 2026, kegiatan diawali dengan mengecek pemahaman anggota kelompok mengenai beberapa topik, yaitu perubahan iklim, penyebab dan dampaknya, interseksionalitas, GEDSI, jenis bahaya, serta kelompok rentan. Hasil pengecekan menunjukkan bahwa anggota kelompok telah memahami beberapa topik yang dibahas. Proses kemudian dilanjutkan melalui diskusi yang dipandu oleh staf lapangan, dimulai dengan pertanyaan mengenai perubahan apa saja yang dirasakan masyarakat di lingkungan sekitar.

Pertanyaan tersebut membuka ruang bagi anggota kelompok untuk mengidentifikasi perubahan lingkungan berdasarkan pengalaman mereka sendiri. Salah satu perubahan yang mereka rasakan adalah semakin sulitnya mengenali pergantian musim.

Dahulu, suara burung dapat menjadi salah satu penanda bagi masyarakat untuk memperkirakan pergantian musim. Kini, suara burung yang biasa terdengar tersebut semakin jarang mereka jumpai. Pengalaman ini menjadi pintu masuk untuk membahas perubahan kondisi lingkungan dan kaitannya dengan perubahan iklim.

Anggota kelompok kemudian mempelajari tiga jenis bahaya iklim, yaitu bahaya tiba-tiba, bahaya laten, dan bahaya majemuk. Melalui pembahasan ini, mereka diajak memahami bahwa ancaman terkait iklim tidak selalu hadir dalam bentuk kejadian yang langsung terlihat. Ada bahaya yang muncul secara mendadak, ada yang berkembang secara perlahan, dan ada pula yang melibatkan beberapa ancaman atau dampak yang saling berkaitan.

Setelah mengenali jenis-jenis bahaya tersebut, staf lapangan bersama anggota kelompok mendiskusikan dampak yang secara langsung memengaruhi kehidupan masyarakat.

Salah satu persoalan yang muncul adalah perubahan dalam pemenuhan kebutuhan pangan. Masyarakat yang sebelumnya dapat menanam padi kini menghadapi kondisi yang membuat mereka tidak lagi bisa melakukannya seperti dahulu. Akibatnya, mereka harus membeli beras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari atau beralih menanam komoditas lain, seperti sayuran dan kacang-kacangan. Peralihan ini membutuhkan biaya yang lebih besar, sementara hasil pertanian tidak selalu dapat dipastikan.

Anggota kelompok juga mengidentifikasi meningkatnya gangguan hama pada tanaman sayuran yang mereka kaitkan dengan perubahan kondisi iklim. Situasi tersebut menambah tantangan bagi masyarakat yang menggantungkan kehidupan pada pertanian. Ketika biaya produksi meningkat dan hasil panen tidak menentu, kemampuan rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan pangan dan kebutuhan lainnya ikut terpengaruh.

Selain persoalan pangan, keterbatasan air bersih turut menjadi perhatian. Kesulitan memperoleh air bersih dapat meningkatkan risiko munculnya penyakit dan menambah beban rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Temuan-temuan ini memperlihatkan bahwa perubahan kondisi lingkungan tidak berhenti pada persoalan alam. Dampaknya dapat merambat ke berbagai aspek kehidupan, mulai dari produksi pangan, pengeluaran rumah tangga, kesehatan, hingga keberlangsungan mata pencaharian.

Dalam diskusi, anggota kelompok juga mempelajari perbedaan antara perubahan iklim dan krisis iklim. Pembahasan ini membantu mereka memahami bahwa perubahan iklim merupakan perubahan pola iklim dalam jangka panjang, sedangkan istilah krisis iklim menekankan tingkat keseriusan dampak dan kebutuhan untuk segera mengambil tindakan. Dengan demikian, pengalaman sehari-hari dapat menjadi titik awal untuk memahami persoalan iklim secara lebih utuh.

Memahami Kerentanan Berlapis melalui Pengalaman Perempuan

Pembahasan berikutnya berfokus pada interseksionalitas dan GEDSI. Anggota kelompok diajak mengenali bahwa setiap orang memiliki identitas, pengalaman, dan kondisi kehidupan yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat memengaruhi bagaimana seseorang mengakses sumber daya, menghadapi risiko, serta memperoleh kesempatan untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial.

Dalam sesi ini, staf lapangan memberikan ruang kepada anggota kelompok untuk menceritakan pengalaman masing-masing. Cerita yang disampaikan memperlihatkan bahwa kerentanan tidak hanya berkaitan dengan kondisi lingkungan atau ekonomi, tetapi juga dapat terbentuk melalui relasi sosial di dalam keluarga dan lingkungan kerja.

Beberapa anggota kelompok menceritakan pengalaman merasa terpinggirkan di lingkungan keluarga atau di antara teman kerja sehingga harus menanggung beban yang lebih besar. Ada pula anggota yang pernah menerima perlakuan kurang adil dari orang tuanya sendiri hingga merasa dirinya tidak penting dalam keluarga. Namun, pengalaman tersebut juga memperlihatkan upaya untuk bangkit dan membuktikan bahwa dirinya mampu.

Pengalaman-pengalaman ini menjadi bagian penting dalam pembelajaran mengenai interseksionalitas. Konsep tersebut membantu menjelaskan bahwa seseorang dapat mengalami ketidakadilan melalui beberapa kondisi yang saling beririsan. Misalnya, seorang perempuan dapat menghadapi beban ekonomi sekaligus tanggung jawab pengasuhan, keterbatasan akses terhadap sumber daya, atau perlakuan tidak adil dalam relasi sosialnya.

Ketika bencana atau dampak perubahan iklim terjadi, kondisi yang sudah ada sebelumnya dapat memperberat situasi yang dihadapi. Perempuan yang memiliki keterbatasan sumber daya, misalnya, dapat menghadapi kesulitan lebih besar ketika mata pencaharian terganggu atau kebutuhan rumah tangga meningkat. Demikian pula, orang yang memiliki keterbatasan mobilitas, sedang hamil, berusia lanjut, atau membutuhkan dukungan khusus dapat menghadapi hambatan berbeda dalam memperoleh informasi kebencanaan dan mengakses tempat evakuasi.

Di sinilah perspektif GEDSI menjadi relevan. Upaya pengurangan risiko bencana perlu mempertimbangkan perbedaan kebutuhan, kemampuan, akses, dan pengalaman setiap kelompok masyarakat. Pendekatan ini tidak cukup hanya dengan mengenali siapa yang termasuk kelompok rentan, tetapi juga perlu melihat kondisi sosial yang membuat seseorang lebih sulit menghadapi bahaya dan pulih setelah bencana.

Melalui diskusi dan berbagi pengalaman, anggota kelompok mulai mengenali kerentanan berlapis yang dapat dialami perempuan dan kelompok rentan. Mereka juga mendapatkan ruang untuk menyampaikan pengalaman yang dirasakan, termasuk pengalaman ketidakadilan yang sebelumnya mungkin sulit diungkapkan.

Memetakan Bahaya dan Kelompok Rentan di Kapalo Koto dan Lambung Bukit

Pada 9 Oktober 2026, kegiatan dilanjutkan dengan mengulas kembali materi yang telah dibahas sebelumnya. Diskusi kemudian dipimpin oleh Ibu Felmi dengan membagi peserta ke dalam dua kelompok berdasarkan wilayah dampingan.

Kelompok Suko mengidentifikasi kondisi di Kelurahan Kapalo Koto, sedangkan Kelompok Bunga Setangkai mendiskusikan kondisi di Kelurahan Lambung Bukit. Masing-masing kelompok diminta mengenali bahaya yang terdapat di wilayahnya serta mengidentifikasi kelompok masyarakat yang berpotensi mengalami kerentanan.

Proses ini tidak berhenti pada pendataan bahaya dan kelompok rentan. Hasil identifikasi kemudian dianalisis menggunakan empat aspek kerentanan berlapis, yaitu aset, akses, agensi, dan struktur sosial.

Pertama, aset, yaitu sumber daya yang dimiliki atau dapat diandalkan masyarakat untuk menghadapi bahaya dan memulihkan kehidupan setelah bencana. Aset dapat berupa sumber penghidupan, lahan pertanian, tabungan, tempat tinggal, maupun dukungan sosial. Ketika sumber penghidupan terganggu dan biaya kebutuhan meningkat, rumah tangga dengan aset terbatas dapat menghadapi kesulitan yang lebih besar.

Kedua, akses, yaitu kemampuan seseorang untuk memperoleh dan memanfaatkan sumber daya, informasi, layanan, serta fasilitas yang dibutuhkan. Dalam situasi bencana, akses terhadap informasi peringatan dini, air bersih, layanan kesehatan, transportasi, bantuan, dan tempat evakuasi dapat menentukan kemampuan seseorang untuk melindungi diri. Hambatan akses dapat membuat perempuan dan kelompok rentan menghadapi risiko yang berbeda dibandingkan kelompok masyarakat lainnya.

Ketiga, agensi, yaitu kemampuan seseorang untuk mengambil keputusan, menyampaikan pendapat, bertindak, dan memengaruhi kondisi yang dihadapinya. Perempuan yang tidak memiliki ruang untuk menyampaikan kebutuhan atau terlibat dalam keputusan keluarga dan komunitas dapat mengalami kesulitan dalam menentukan langkah untuk melindungi diri maupun keluarganya. Sebaliknya, ruang partisipasi yang terbuka dapat memperkuat kemampuan perempuan untuk terlibat dalam upaya pengurangan risiko bencana.

Keempat, struktur sosial, yaitu aturan, norma, kebiasaan, relasi kuasa, dan praktik sosial yang memengaruhi posisi seseorang dalam masyarakat. Pembagian tanggung jawab dalam keluarga, perlakuan tidak adil, serta anggapan mengenai peran perempuan dapat memengaruhi beban yang mereka tanggung. Dalam konteks kebencanaan, struktur sosial juga dapat menentukan siapa yang dilibatkan dalam pengambilan keputusan dan siapa yang kebutuhannya kurang diperhatikan.

Keempat aspek tersebut membantu anggota kelompok melihat bahwa kerentanan tidak hanya ditentukan oleh keberadaan bahaya. Risiko yang dihadapi masyarakat juga dipengaruhi oleh sumber daya yang tersedia, kemudahan memperoleh layanan, kemampuan mengambil keputusan, serta kondisi sosial yang membentuk kehidupan mereka.

Setelah proses identifikasi dan analisis, masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusi mengenai kondisi di wilayahnya. Proses ini menjadi kesempatan untuk menyampaikan pengetahuan lokal, membandingkan pengalaman, serta membangun pemahaman bersama mengenai bahaya dan kelompok rentan di Kapalo Koto dan Lambung Bukit.

Mengapa Dampak yang Sama Dapat Menghasilkan Kerentanan Berbeda?

Pembelajaran yang dilakukan memperlihatkan pentingnya membedakan antara bahaya dan kerentanan. Bahaya merupakan kejadian atau kondisi yang berpotensi menimbulkan kerugian, sedangkan kerentanan berkaitan dengan kondisi yang membuat seseorang atau kelompok lebih mudah terdampak oleh bahaya tersebut.

Banjir bandang yang terjadi pada tahun sebelumnya dikenali oleh anggota kelompok sebagai contoh bahaya yang datang secara tiba-tiba. Namun, dampak kejadian tersebut tidak dapat dipahami hanya dari peristiwa banjir itu sendiri. Perlu dilihat pula bagaimana kondisi masyarakat sebelum bencana terjadi, sumber daya yang mereka miliki, akses terhadap informasi dan evakuasi, serta dukungan yang tersedia selama dan setelah kejadian.

Seseorang yang memiliki sumber daya memadai dan akses terhadap informasi mungkin mempunyai pilihan lebih banyak untuk menyelamatkan diri dan memulihkan kehidupannya. Sebaliknya, orang yang tinggal dalam kondisi ekonomi terbatas, memiliki hambatan mobilitas, atau menanggung tanggung jawab pengasuhan dapat menghadapi kesulitan tambahan.

Hal serupa dapat terjadi ketika perubahan iklim memengaruhi pertanian. Ketika masyarakat kesulitan menanam padi, harus beralih ke komoditas lain, menghadapi gangguan hama, atau mengalami ketidakpastian hasil panen, dampak ekonomi yang muncul tidak selalu sama bagi setiap rumah tangga.

Rumah tangga yang memiliki tabungan atau sumber pendapatan alternatif mungkin lebih mampu menghadapi kenaikan biaya. Sementara itu, rumah tangga yang bergantung pada satu sumber penghidupan dan memiliki sumber daya terbatas dapat mengalami tekanan yang lebih besar. Apabila perempuan juga memikul tanggung jawab utama untuk memenuhi kebutuhan keluarga, dampak tersebut berpotensi menambah beban yang mereka tanggung.

Oleh karena itu, mengenali kerentanan berlapis berarti memahami hubungan antara bahaya, kondisi ekonomi, akses terhadap sumber daya, relasi sosial, dan kemampuan mengambil keputusan. Pendekatan ini penting agar upaya pengurangan risiko bencana tidak hanya berfokus pada penanganan kejadian, tetapi juga memperhatikan kondisi yang membuat sebagian orang lebih rentan sebelum bencana terjadi.

Membangun Pemahaman dari Pengalaman Masyarakat

Rangkaian diskusi pada 7 dan 9 Oktober 2026 memberikan ruang bagi anggota Kelompok Suko dan Kelompok Bunga Setangkai untuk membangun pemahaman berdasarkan pengalaman mereka sendiri.

Dari proses tersebut, anggota kelompok mulai mengenali perubahan yang mereka rasakan di lingkungan sekitar, memahami jenis bahaya iklim, serta mengidentifikasi dampak perubahan kondisi lingkungan terhadap pangan, pertanian, ekonomi rumah tangga, dan ketersediaan air bersih. Mereka juga mulai dapat membedakan perubahan iklim dan krisis iklim, serta memahami hubungan antara interseksionalitas, GEDSI, dan kerentanan berlapis.

Perubahan lainnya terlihat dari keberanian anggota kelompok untuk menceritakan pengalaman pribadi dan menjelaskan dampak yang mereka rasakan. Pengalaman yang sebelumnya berada dalam ruang pribadi dapat menjadi bahan pembelajaran bersama untuk memahami bagaimana ketidakadilan dan perbedaan kondisi sosial memengaruhi kehidupan perempuan.

Meski demikian, pemahaman mengenai kerentanan berlapis perlu terus dikembangkan melalui proses belajar dan tindakan bersama. Pengetahuan yang telah dibangun dapat menjadi dasar untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat, memetakan kebutuhan kelompok rentan, serta memastikan bahwa perempuan memiliki ruang dalam perencanaan dan pengambilan keputusan terkait kebencanaan.

Bagi masyarakat Kapalo Koto dan Lambung Bukit, mengenali bahaya dan kerentanan di wilayah sendiri merupakan langkah awal untuk membangun upaya pengurangan risiko bencana yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dengan memahami bahwa dampak bencana dapat berbeda pada setiap orang, masyarakat dapat mulai mendorong langkah-langkah yang tidak hanya melindungi warga, tetapi juga memastikan perempuan dan kelompok rentan tidak tertinggal dalam proses kesiapsiagaan, penanganan, dan pemulihan.

Pada akhirnya, memahami kerentanan berlapis bukan sekadar mengenali siapa yang paling terdampak. Hal ini juga berarti melihat mengapa kerentanan tersebut terjadi, kondisi apa yang memperberatnya, dan perubahan apa yang perlu dilakukan agar setiap orang memiliki kesempatan yang lebih setara untuk menghadapi bahaya dan membangun kembali kehidupannya.

Kota Padang, 07 dan 09 Oktober 2026

Baca Juga

Info Kegiatan

Perayaan Hari Lansia Internasional 2026 Mendengar Suara Perempuan Lansia Perdesaan di Pulau Sumatera

05/10/2026 | 10:13 WIB
Info Kegiatan

Melihat Praktik Penerapan MTOT dengan Ekoenzim di Lahan Hortikultura dan Belajar dari Petani Milenial

30/09/2026 | 12:11 WIB
Info Kegiatan

Turun ke Sawah dan Sekolah, Petani Pesisir Selatan dan TTU Berbagi Ilmu MTOT dan Ekoenzim

30/09/2026 | 11:48 WIB

LP2M

  • Tentang
  • Team
  • Kontak
  • Donasi

Copyright ©  Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Masyarakat (LP2M)
Didukung oleh: TrayDigita Kreasi Teknologi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Tentang
  • Agenda
  • Kontak
  • Publikasi
    • INFO KEGIATAN
    • SIARAN PERS
    • PENELITIAN
    • LAPORAN
      • Laporan Keuangan
      • Laporan Tahunan
      • Pembelajaran Program
  • Donasi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.